Seperti Minum Obat

Kamis, Juli 17, 2008

Obat itu tidak menarik. Saya tidak suka minum obat. Bahkan sudah seusia ini; usia di mana seharusnya melakukan sesuatu karena penting atau tidak penting, bukan suka atau tidak suka. Alasannya sederhana: pahit. Sebisa mungkin saya menghindari obat. Hanya kalau terpaksa dan tidak ada pilihan lain. Itupun belum pernah sampai habis. Lagi pula tidak semua sakit harus disembuhkan dengan obat, itu prinsip saya. Tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Dan saya keukeuh dengan prinsip itu. Padahal sebenarnya ya itu tadi, obatnya pahit. Akibatnya, waktu penyembuhan menjadi lama: satu hari menjadi seminggu. Terbuang sia-sialah banyak hal. Diam-diam saya selalu berharap agar orang-orang farmasi mengubah semua rasa obat menjadi lebih menarik di lidah: coklat kek misalnya, atau apalah.

Kalau dipikir-pikir, membaca Kitab Suci, sama kasusnya dengan saya dan obat. Hanya kalau mendesak dan tidak ada pilihan lagi, barulah Kitab Suci dibaca (syukurlah akhirnya dibaca). Katanya Kitab Suci itu susah dan tidak menarik sebagai bahan bacaan (coba kalo ditulis dengan gaya Cosmopolitan?).

Saya selalu suka mengatakan dalam banyak kesempatan kalau ciri orang Katolik "sejati" adalah yang memerlukan waktu 20-30 menit untuk menemukan satu perikop. Dan Kitab Sucinya tetap kelihatan baru, halaman-halamannya masih nempel satu sama lain, padahal dibeli 3 tahun lalu.

Saya ingin membentangkan fakta ini. Ada saat-saat di mana kita sungguh-sungguh sakit (baca: bermasalah dengan Tuhan). Tidak mengerti kehendak-Nya, tidak tahu apa mau-Nya, bingung dengan rencana-rencana-Nya untuk hidup kita, dst, dst. Ditambah lagi dengan bingung menjawab pertanyaan orang lain tentang ini dan itu sehubungan dengan Kitab Suci. Dan ada saatnya "sakit" kita di atas bisa begitu lama. Berhari-hari, berbulan-bulan. Bisa tahunan. Padahal sesungguhnya bisa lebih cepat dari itu penyembuhannya.

Caranya? Ya itu tadi, baca Kitab Suci. Bukan hanya ketika terpaksa dan mendesak. Tetapi teratur. Karena kita tidak mungkin bisa mengetahui siapa Dia dan kehendak-kehendak-Nya jika kita tidak membaca Kitab Suci. Dia dan rancangan-rancangan ada di dalam Kitab Suci.

Ayo, sisihkan waktu sehari, 10 menitlah minimal untuk membaca Kitab Suci. Pada akhirnya membaca Kitab Suci bukan soal suka atau tidak suka. Ini sudah soal penting atau tidak penting. Kitab Suci penting untuk jiwa kita.

2 komentar:

{ meylia } at: 17/7/08 2:39 PM mengatakan...

hi, frater.
apa kabar ? he3 ...
sorry, baru balas.
asyik nih bisa chat2 via blog
kita sharing tentang kehidupan y
have a nice day
Gbu, meylia-kkmk =)

{ meylia } at: 17/7/08 2:42 PM mengatakan...

o y, frater. lupa.
bisa reply via email :
mariko.saito@yahoo.co.id /
http://myl_hlm.blogs.friendster.com/my_blog/
he3 ...