Ayolah... Bangkit Donk

Kamis, November 27, 2008 0 komentar

"Eh tau gak, semalam Mumbai diserang teroris?" tanya teman saya tadi di meja makan. Saya baru tahu saat itu.

Selesai makan, saya bergegas menyalakan televisi, menonton berita siang. Benar.

Bacaan Injil hari ini berkisah "Tentang runtuhnya Yerusalem" (Luk. 21:20-24): bahwa Yerusalem akan diinjak-injak bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah, penduduknya akan tewas oleh pedang dan sisanya akan dijadikan tawanan.

Para penduduk di Mumbai sedang mengalami keruntuhan juga akibat serangan teroris semalam (semoga Tuhan melindungi mereka yang masih bertahan dan menerima arwah mereka yang menjadi korban).

Anda sendiri mungkin sedang "runtuh" juga oleh penderitaan yang Anda alami: Ya runtuh fisik, emosi, mental atau spiritual. Ini beberapa ide menjalani penderitaan yang baik. Saya mengutipnya dari buku yang sama yang sudah saya sebutkan kemarin.

Ø      Menggunakan penderitaan untuk membantu dan memperkaya orang lain.

Ø      Menggunakan penderitaan untuk menjadi orang yang lebih baik—menunjukkan karakter dan kebaikan tertinggi Anda dalam menghadapi kesedihan.

Ø      Melihat ke dalam, dan secara pribadi memanfaatkannya untuk mengembangkan kemampuan Anda dalam menghadapi kesulitan.

Ø      Menggunakan dan meneruskannya dengan ketetapan hati yang terus diperbaharui.

Ø      Menjadi manusia—mengakui ketika penderitaan itu berat atau menyakitkan—tidak berpura-pura hal itu tidak ada, merampas pelajaran-pelajaran penting dari diri Anda.

Ø      Meminta bantuan ketika Anda membutuhkannya.

Ø      Mengubah penderitaan menjadi alasan untuk bertindak.

Ø      Terbuka terhadap penderitaan itu—membiarkan orang lain belajar dari apa yang Anda jalani.

Selain itu, jangan lupa untuk menanyakan kepada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan untuk melangkah maju, membuat peningkatan sekecil apa pun dalam cara saya, dan orang lain, menjalani penderitaan saya? Apa yang bisa saya lakukan secepatnya untuk melewati situasi ini? Saya ingin mehidupan saya seperti apa bagi diri saya dan orang lain pada sisi lain?

Tahukah Anda ketika sedang menderita, kita bisa tanpa sadar melakukan identifikasi: kita mencap diri kita sesuai dengan apa yang sedang kita derita dan bertindak sesuai cap itu dengan tujuan memberi excuse kepada diri sendiri dan orang lain. Misalnya, "gak tahu apa orang lagi patah hati". Sah saja mengatakannya, lagipula memang faktanya sedang patah hati. Tetapi berbahaya kalau setiap saat kalimat itu terus yang kita ucapkan kepada diri sendiri dan orang di sekitar kita hanya supaya mendapat perhatian dan pengertian.

Ini yang sering memperlama penderitaan.

Ayolah… bangkit donk.

Fisik, Emosi, Mental atau Spiritual?

Rabu, November 26, 2008 0 komentar

Sesungguhnya saya ingin bertanya kepada Anda, "apa kabar hari ini?" Tapi itu tidak saya lakukan karena saya bisa menebak jawabannya, "baik frater". Kata teman saya, "pertanyaannya basa-basi, jadi jawabannya juga basa-basi". Belakangan kalau saya mengiriminya pesan pendek, sekalipun masih berisi pertanyaan di atas tetapi sudah dilengkapi dengan keterangan dalam kurung "ini gak basa-basi" yang, apa boleh buat, kedengaran hampir seperti tag line rokok.

Mengapa saya ingin tahu kabar Anda?

Well, bacaan Injil kemarin dan hari ini berasal dari satu perikop, "Permulaan Penderitaan" (Luk 21:7-19).

Saya tidak tahu persis Anda sedang menderita: Anda sedang bahagia; biasa-biasa saja; bosan dengan hidup yang sekarang Anda jalani tapi, untuk alasan yang masuk akal, Anda tidak bisa berbuat banyak.

Apapun keadaan Anda, mari melihat lebih kritis penderitaan itu sendiri—untuk Anda yang sedang tidak menderita, anggap saja ini persiapan ketika "waktunya menderita tiba" (jauhkan ya Tuhan). Maksudnya, minimal ketika orang dekat Anda bertanya "gimana kabar?" Anda tidak hanya asal menjawab "lagi menderita nih" tanpa ada keterangan lanjut.

Dari buku yang saya baca, Adversity Advantage (2008), ternyata ada empat jenis penderitaan.

1.      Penderitaan fisik

Ini penderitaan yang tidak perlu dijelaskan panjang lebar di sini. Kita semua tahu. Menurut para penulis buku tersebut, penderitaan ini adalah jenis yang paling nyata: tubuh kita memberitahu kapan sesuatu terasa menyakitkan. Penderitaan jenis ini paling sering kita bicarakan secara terbuka dan paling sering menimbulkan simpati yang besar dari orang lain. Obatnya juga jelas.

2.      Penderitaan emosional

Penderitaan jenis ini membuat hati kita sakit, anggota badan terasa berat dan nyali kita berubah sangat cepat. Tanda-tanda penderitaan ini adalah kekhawatiran, ketakutan, frustrasi, kemarahan, ketidakberdayaan, dendam, kegelisahan, iri, kesedihan mendalam, kebencian, kemuakan dan cinta yang tak terpecahkan. Keistimewaan penderitaan jenis ini adalah sifatnya menular ke orang lain. Anda sedang sedih dan frustrasi bisa membuat orang lain mengalami hal yang sama. Itulah sebabnya nasehat tua selalu menyebutkan kalau Anda sedang sedih bacalah buku humor atau nontonlah film komedi. Kalau Anda berteman dengan orang yang bisa mengubah kesedihan Anda menjadi sukacita, itu rahmat.

3.      Penderitaan mental

Penderitaan jenis ini timbul ketika kita tampaknya tidak bisa mengetahui dan memecahkan masalah yang sangat penting; juga sering kali datang dari kebingungan dan ketidakmampuan menemukan solusi yang terbaik dan tepat atas masalah penting; bisa juga ditimbulkan oleh kebingungan atau kurangnya informasi mengenai sesuatu yang kita anggap penting.

4.      Penderitaan spiritual

Penderitaan jenis ini, menurut para penulisnya, sering kali berasal dari sesuatu yang sangat pribadi dan tersembunyi. Penderitaan ini terjadi ketika kita merasa terkatung-katung tanpa iman, tak memiliki tujuan hidup dan putus asa; juga terjadi ketika jiwa Anda dalam keadaan kacau balau dan bergulat dengan masalah-masalah besar yang mungkin secara berurutan disebabkan oleh kehilangan orang tercinta, kematian yang amat dekat atau kejadian yang secara pribadi amat mengejutkan. Penderitaan ini juga bisa terjadi ketika Anda menderita krisis keyakinan atau ketika Anda merasa tidak bermakna atau kehidupan Anda tanpa makna sama sekali.

Masih menurut penulis buku ini, kebanyakan penderitaan yang Anda alamai terdiri dari beberapa penderitaan sekaligus. Misalnya, jika Anda dipecat dari pekerjaan, emosi Anda pasti akan kacau balau, mental Anda dengan sendirinya terpengaruh (gangguan tidur dan stress), pada akhirnya secara spiritual Anda mulai bertanya, "mengapa ini terjadi pada saya Tuhan?" atau merasa seolah-olah "Tuhan telah meninggalkan saya".

Untuk Anda yang sedang menderita, apapun jenisnya, pagi ini Yesus berjanji, "Tetapi tidak sehelai pun dari rambutmu kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu" (ayat 18-19).

Berita-Berita "Seram" di Inbox Email

Selasa, November 25, 2008 0 komentar

Saya punya dua alamat e-mail. Tidak ada maksud untuk gaya-gayaan. Yang satu berusia 4 tahun—waktu itu saya masih buta teknologi, tapi murid-murid saya mendesak "frater mesti punya email" dengan alasan "biar curhatnya bisa panjang lebar". (Sebenarnya ada dua desakan: pertama email, kedua friendster. Yang email, "okelah" pikir saya, kalo friendster, saya pikir itu genit).

Email yang lain belum genap dua tahun. Dua email ini untuk kepentingan yang berbeda: yang satu untuk teman, kenalan, keluarga, sementara yang lain untuk urusan dengan pihak luar yang resmi sifatnya, semisal mengirim tulisan ke surat kabar lokal.

Sekalipun untuk kepentingan yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan: kotak masuknya (inbox) terisi kebanyakan oleh email terusan (forward). Email terusan ini macam-macam pula jenisnya: yang inspiratif ada, yang lucu ada, yang nakal-agak jorok juga ada, yang curhat ada, yang sekadar basa-basi ada, dan berita-berita seram (hati-hati dengan ini dan itu, waspadai ini dan itu, jangan ini dan itu, lengkap dengan permintaan/perintah "tolong sebarkan ini…" di bawahnya).

Biasanya jika punya waktu cukup dan tentu saja kalau internetnya tidak ngadat, saya menikmati email-email terusan itu. Kecuali, berita-berita seram. Mengapa saya tidak menikmati jenis yang ini? Di kepala saya selalu muncul keprihatinan, "kok bisa ya? kok tega ya?". Kadang-kadang, penasaran, "masak sih?" Karena tidak menikmati, saya selalu menghapusnya dari kotak masuk.

Harian Kompas dua hari yang lalu (23/11) menyajikan tulisan tentang "berita-berita seram" itu. Katanya, berita-berita demikian tidak selalu benar. Kalau isinya sensasional dan dibumbuhi dengan "tolong sebarkan," harus diragukan kebenarannya. Nah loh, padahal "berita-berita seram" itu 'kan sensasional semua?

Yesus dalam Injil pagi ini (Luk 21:5-11) mewanti-wanti, "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan". Karena akan tampil banyak nabi palsu.

"Berita-berita seram" itu bisa jadi penyesatan model baru. Dan yang menulis berita-berita itu bisa jadi adalah nabi-nabi palsu zaman ini yang gemar bikin sensasi padahal isinya kebohongan. Karena itu, tidak ada sikap yang lebih tepat lagi selain waspada; waspada terhadap apa yang Anda baca. Jangan sekali baca, langsung percaya dan mulai mengarahkan mouse ke menu forward.  

Barang-Barang Bawaan dalam Hidup

Senin, November 24, 2008 0 komentar

Konon katanya laki-laki lebih praktis, gak ribet, simple, cepat. Benar? Tidak juga. Saya salah satu contoh dari yang "tidak juga" itu, terutama ketika hendak bepergian.

Pertanyaan pertama yang selalu saya hadapi adalah apa yang mau dibawa?

Nah, masalah biasanya muncul di sini. Sewaktu masih bertugas di Jakarta, di lemari pakaian saya tersimpan beberapa jenis tas bepergian sekaligus. Ukurannya besar, sedang dan kecil. Tas-tas berbagai ukuran itu difungsikan tergantung saya pergi ke mana dan berapa lama.

Masalahnya di mana? Saat packing: ya itu tadi, barang apa yang mau dibawa?

Setelah saya hitung-hitung, banyak waktu habis hanya untuk memikirkan barang apa yang akan saya bawa. Ok, akhirnya packing selesai juga. Tetapi setelah saya ingat-ingat sekarang, ada tiga jenis barang yang biasanya ada di dalam tas saya. Pertama, barang yang benar-benar dibutuhkan dan terpakai selama perjalanan. Kedua, barang yang memang terpakai tetapi setelah dipikir-pikir kalau tidak dibawa juga tidak apa-apa, tidak akan mengurangi kualitas perjalanan. Ketiga, barang yang ternyata benar-benar tidak terpakai sampai kembali ke rumah dan disimpan kembali masih dalam keadaan utuh atau bersih. Dan sialnya, ketiga barang itulah yang selalu ada dalam tas saya kalau saya bepergian.

Alhasil, banyak energi (tenaga, pikiran, konsentrasi, waktu, uang) juga habis hanya untuk mengurusi tas-tas itu. Padahal energi itu bisa disalurkan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, semisal sungguh-sungguh menikmati perjalanan.

Semalam saya membaca sebuah buku bagus, Adversity Advantage. Ini buku tentang bagaimana menghadapi kesulitan. Salah satu bagian dalam buku ini berbicara tentang masalah yang saya hadapi: packing.

Menurut penulisnya, Paul G. Stoltz dan Erik Weihenmayer, sama seperti kesulitan lam perjalanan yang ditimbulkan oleh kekurangcermatan dalam packing, begitu pulalah hidup. Hidup kita bisa kacau balau, emosi kita naik turun gak karuan dan hidup rohani kita kosong karena "barang" yang kita bawa terlalu banyak melebihi kebutuhan kita.

Saya kutipkan untuk Anda salah satu paragrap: "Periksa pengepakan Anda sendiri—apa yang sekarang ini Anda bawa dalam kehidupan? Berapa banyak dari apa yang Anda miliki, dan apa yang Anda lakukan yang benar-benar penting? Berapa banyak dari milik Anda yang hanya merupakan konsumsi dari sumber daya? Akhirnya, apakah barang-barang yang Anda pak dalam kehidupan—barang-barang yang Anda kumpulkan, keputusan-keputusan yang Anda buat, pekerjaan yang Anda lakukan, cara Anda menginvestasikan waktu dan uang, cara Anda mengelola kesehatan—membebani Anda atau mengangkat Anda?"

Tahukah Anda mengapa janda miskin dalam bacaan Injil pagi ini (Luk 21:1-4) mau memberi dari kekurangannya dan dipuji Yesus?

Bukan karena "cuma itu yang dimilikinya". Bukan. Lebih daripada itu,  ia mengepak hidupnya sedemikian rupa sehingga memberi tidak lagi menjadi beban baginya. Memberi sudah menjadi panggilan hatinya.

Saya mengutip kata-kata penulis buku yang luar biasa ini, "lebih" tidak selalu berarti lebih. Jika salah mengepak, lebih akan terasa kurang. Lebih banyak materi yang kita miliki bisa menambah keruwetan sehingga kita akan merasa kekurangan waktu, kekurangan kedamaian pikiran…

Maka prinsipnya bukanlah sedikit atau banyak "barang" dalam hidup tetapi apakah barang itu tepat atau tidak—tepat berarti semakin membuat Anda bertumbuh dewasa, hidup dalam kedamaian, emosi yang stabil, dan rohani yang kuat.

Ayo, mari periksa "barang-barang bawaan" kita.

"Saya Gak Punya Bapak"

Jumat, November 21, 2008 0 komentar

Apa terjemahan bahasa Indonesia untuk kata "father"?

Jawabannya: tergantung. Ya, tergantung siapa yang ditanyai.

Sewaktu masih mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak (usia 5-6 tahun) di bawah kolong Jembatan Tiga Jakarta Utara, terjemahan bermacam-macam—bocah-bocah itu berebutan menjawabnya. Suara mereka saling menimpali. Riuh rendah. Ini jawaban mereka:

Abah.

Bapak.

Papa.

Papi.

Ayah.

Anak-anak itu menerjemahkan father sesuai dengan panggilan yang mereka berikan kepada ayah mereka di rumah. Tentu saja tidak ada yang salah—siapa yang peduli dengan terjemahan dalam kamus John Echols, mereka hanyalah anak-anak 5-6 tahun. Kami sedang bersenang-senang.

Ceritanya belum berakhir sampai di situ. Seorang anak dengan tubuh yang ringkih mengangkat tangannya.

"Pak guru, saya gak punya bapak," katanya, dengan suara datar.

"Bapak kamu di mana?" tanya saya, terkejut.

"Gak tau" sambil menggelengkan kepala. "Saya cuman punya ibu, di kampung".

Deg…

Belakangan saya baru tahu, ia tinggal bersama neneknya yang sudah berumur 70-an yang sudah bungkuk badannya karena dimakan usia.

Tidak dirawat ibunya dan ditinggalkan bapaknya. Apa salah bocah dengan tubuh seringkih ini?

Remember Our Saints: St. Maria Dipersembahkan kepada Allah

0 komentar

Hari ini, tanggal 21 November, peringatan Santa Maria dipersembahkan kepada Allah.

Pada hari ini tahun 543 diberkati gereja baru santa Maria dekat kenisah di Yerusalem. Maka bersama umat Kristen timur kita ingat bagaimana Maria diberkati oleh Tuhan sejak awal hidupnya. Ia menjadi kediaman Roh Kudus yang indah berseri karena hidup suci. Terdorong oleh Roh Kudus, Maria mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia melaksanakan kehendak Bapa dengan sempurna, dan menjadi bunda Kristus. Maria sungguh bahagia, sebab mendengar dan melaksanakan sabda Tuhan.

Dalam pembaptisan, hidup kita juga dipersembahkan kepada Allah. Kitapun diberkati oleh Tuhan dan dilimpahi dengan rahmat-Nya. Berulang kali kita mendengar sabda Allah. Apakah kita juga melaksanakannya?

(Dari: Anggota keluarga Allah, Kanisius, 1976)

Dan jawaban Anda Adalah ...

Kamis, November 20, 2008 0 komentar

Bayangkan, ada seseorang yang bertanya kepada Anda: "apa yang paling penting yang harus dilakukan dalam hidup ini?"

Apa jawaban Anda?

Lalu, seorang lagi pada kesempatan lain lagi bertanya, "Apa artinya keberhasilan?"

Jawaban Anda adalah …

Terakhir, "bagaimana Anda ingin dikenal dan dikenang orang?"

Anda menjawab…

Pagi ini saya menemukan tiga orang yang menjawab pertanyaan ini. Untuk pertanyaan pertama, seorang itu bernama Etiene De Grellet.

Aku akan melalui jalan kehidupan ini hanya sekali.

Karena itu, kebaikan apapun yang dapat kulakukan

Atau kemurahan hati sekecil apapun yang dapat kutunjukkan kepada sesame manusia,

Izinkan aku melakukannya sekarang.

Izinkan aku untuk tidak menundanya dan mengabaikannya,

Karena aku tidak akan melalui jalan ini lagi.

Orang kedua yang menjawab pertanyaan "apa artinya keberhasilan?" adalah seorang penulis Amerika, Ralph Waldo Emerson.

Bisa sering tertawa lepas;

Meraih penghormatan dari orang pintar dan kasih sayang dari anak kecil;

Mendapatkan penghargaan dari kritikus jujur dan mampu menghadapi pengkhianatan dari teman yang jahat;

Menghargai kecantikan, bisa melihat kebaikan orang lain;

Meninggalkan dunia yang sedikit lebih baik, baik dengan meninggalkan anak yang sehat, sebidang kebun, ataupun kondisi sosial yang damai;

Mengetahui bahwa seseorang dapat bernafas dengan lebih mudah karena kita pernah hidup.

Itulah yang dinamakan meraih keberhasilan.

Dan "bagaimana anda ingin dikenal dan dikenang?", Abraham Lincoln menjawab,

Aku ingin disebut-sebut oleh orang yang paling mengenalku dengan baik, bahwa aku selalu mencabuti duri dan menanam bunga di tempat yang menurutku dapat ditumbuhi bunga.

Nah, bagaimana dengan Anda? Ambil waktu sejenak. Itu akan membuat Anda menjalani hidup secara lebih bermakna. Karena hidup tidaklah tentang kita sendiri. Karena isi dunia ini bukan hanya kita.

Pilihannya adalah bertumbuh atau dicaplok ayam

Rabu, November 19, 2008 0 komentar

Ada dua buah bibit tanaman yang terhampar di ladang yang subur. Bibit pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar, aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini dan menjulangkan tunas-tunasku di atas keras tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam kepada musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku."

Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Sementara bibit yang kedua bergumam, "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku pasti akan terkoyak.

Apa yang terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba memakannya? Dan, pasti jika aku tumbuh dan merekah, anak-anak kecil pasti akan berusaha mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai aman."

Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.

Beberapa pecan kemudian seekor ayam mengais-ngais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi dan mencaploknya segera.

Pagi ini, dalam Injil Yesus bicara tentang perumpaan tentang uang mina (Luk. 19:11-27). Beberapa orang dibagikan mina oleh bangsawan yang mau bepergian. Hampir semua menggandakannya, kecuali satu orang yang memilih menguburkannya. Ketika bangsawan itu kembali, yang menggandakan memperoleh upahnya dan yang menguburnya dihukum mati.

Pesannya sesungguhnya bukan hanya "ayo kembangkan talentamu". Lebih luas daripada itu, hidup ini berwarna. Kadang-kadang (mungkin untuk beberapa orang hampir selalu) berwarna hitam: sedih, susah, pesimis, selalu ada masalah, sakit, bla-bla-bla.

Dalam semua warna itu (termasuk hitam sekalipun), Tuhan memberikan berkat-Nya kepada masing-masing kita. Memilih itu termasuk salah satu berkat-Nya. Maka kita bisa dan harus memilih "berakar dan tumbuh ke atas" atau "berdiam di dalam tanah" seperti bibit-bibit itu; memilih "menggandakan mina" atau "mengubur dalam tanah" seperti perumpaan yang disampaikan Yesus.

Ingat saja, berakar dan tumbuh ke atas membuat bibit itu sungguh menikmati kehidupan; menggandakan mina akan memperoleh imbalannya berupa kebahagiaan bersama sang bangsawan. Sebaliknya, mengubur (diri) dalam tanah hanya membawa malapetaka: dicaplok ayam atau dipenggal kepala.

Jangan terus berada dalam kesedihan, kecemasan, dukacita, dan pesimisme. Karena, percayalah, Anda akan mati perlahan-lahan: jiwa Anda, semangat Anda, masa depan Anda, karir Anda, dan pada akhirnya fisik Anda.

Anda mau bahagia, bukan?  

Puas

Jumat, November 14, 2008 0 komentar

Baru-baru ini saya menyadari hal ini: sesungguhnya tidak ada sesuatupun di dunia ini yang benar-benar bisa memuaskan kita. Puas yang Anda dapatkan saat itu bukanlah akhir dari cerita. Sebaliknya itulah awal yang baru untuk sesuatu yang lain lagi.

 

Saya pernah benar-benar menginginkan sebuah buku (saya membaca resensinya, katanya "must read" di sebuah situs internet). Setelah lama menunggu, akhirnya nongol juga di toko buku. Mahal. Tapi saya beli juga. Tentu saja puas. Tapi itu hanya sebentar. Buku lain lagi dengan segera menarik perhatian saya.

 

Seperti buku itu, begitu pulalah hal-hal yang lain: menginginkannya setengah mati, irit mati-matian untuk mendapatkannya dan setelah ada dalam genggaman tangan…. Yang lain lagi sudah siap-siap menarik perhatian.

 

Kita tidak pernah benar-benar puas. Kalaupun puas dengan apa yang kita miliki saat ini, itu hanyalah sementara. Yang lain lagi datang dan menggoda kita. Lalu yang kita punyai tidak lagi menarik. Perburuan berikutnya dimulai lagi.

 

Barangkali memang kita ini makhluk yang susah terpuaskan.

 

Inilah cikal bakal kerakusan, perselingkuhan dan kejahatan yang lain.

Orang Lain Lebih Beruntung?

Rabu, November 12, 2008 0 komentar

Seorang kenalan saya mengirimi saya sebuah email. Begitu selesai membacanya, saya merasa tak ada pilihan lain bagi saya kecuali membagikannya kepada Anda. Ini dia:

 

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak kaya... Lalu Dia menunjukkan seorang pria dengan banyak  harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memiliki siapapun untuk berbagi.

 

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak cantik... Lalu Dia menunjukkan seorang wanita dengan kecantikan yang melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yang buruk. 

 

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan aku menjadi tua... Lalu Dia menujukkan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaan mobil.

 

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak memiliki rumah besar... Lalu Dia menunjukkan sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang, baru saja diusir dari rumah yang kecil sesak...dan terpaksa tinggal dijalanan.

 

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus bekerja... Lalu Dia menunjukkan seorang pria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun, karena tidak memiliki kesempatan untuk belajar membaca.

 

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak menjadi orang terkenal... Lalu Dia menunjukkan seseorang yang memiliki banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak memiliki harta lagi.   

 

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pintar... Lalu Dia menunjukkan seorang yang terlahir jenius, tetapi dipenjara karena menyalahgunakan kepintarannya untuk kejahatan.

 

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia begitu sabar dengan orang yang tidak bisa bersyukur seperti aku... Dia lalu menunjukkan AlkitabNya...Dia menunjukkan AnakNya, yang telah mengambil alih tempatku di Kalvari. 

 

Aku tahu sekarang betapa besar Ia mengasihiku... Dan itu cukup bagiku (1 Tes 5:18 'Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu).'

 

Mengucap syukur untuk apa yang kita miliki sekarang, kadang-kadang merupakan pilihan paling susah untuk diambil. Soalnya, kita suka membandingkan dengan orang lain.

 

Dan sialnya, di mata kita, orang lain selalu lebih beruntung.

Remember Our Saints: St. Martinus dan St. Yosafat

0 komentar

Tanggal 11 November, kemarin, peringatan Santo Martinus, seorang uskup. Siapakah beliau ini?

 

Martinus lahir di Hungaria Barat, sekitar tahun 316, dari keluarga kafir. Pada umur muda ia masuk tentara, dan dalam rangka tugas sampai di Perancis. Di situ ia dibaptis pada umur delapan belas tahun. Ia lalu meninggalkan tentara dan menempuh hidup rahib (pertapa) di bawah pimpinan santo Hilarius. Dalam tahun 371 ia dipilih menjadi uskup Tours di Perancis. Sebagai uskup, ia tetap berusaha untuk hidup sebagai rahib dan masih mendirikan beberapa biara. Pada akhir abad keempat itu, orang-orang kota hampir semua Kristen, tetapi orang di pedesaan masih tetap kafir. Martinus lalu mulai mewartakan Injil, dengan hasil baik. Ia meninggal dunia pada tahun 397.

 

Cinta kasih Kristus dapat mengubah hidup kita, asal hati kita terbuka bagi-Nya. Apakah hati kita terbuka bagi cinta kasih itu?

 

Hari ini juga, tanggal 12 November, Gereja memperingati santo Yosafat, yang juga seorang uskup sekaligus martir. Ini riwayat hidupnya.

 

Yosafat lahir di Ukraina, Rusia Selatan, sekitar tahun 1580. Orang tuanya Kristen Ortodoks, tetapi Yosafat merasa diri tertarik kepada Gereja Katolik. Ia lalu menjadi rahib santo Basilius dan berusaha keras memajukan kesatuan Gereja. Ia mendirikan dan memulihkan beberapa biara yang menjadi pusat usaha pendekatan Gereja-Gereja Yunani dan Latin. Sebagai seorang uskup agung Polotsk di Rusia Barat, ia giat berkhotbah dan sering mengunjungi para imamnya untuk menyemangati mereka. Pada tanggal 12 November 1623 ia dibunuh oleh orang yang menentang usaha kerasulannya itu.

 

Santo Yosafat berjuang dengan giat tanpa melihat hasil. Kristus juga wafat di salib tanpa melihat hasil usahanya. Namun demikian, usaha itu tidak sia-sia, sebab Kristus telah bangkit dari alam maut. Apakah kita bersedia untuk bekerja bagi Kristus tanpa melihat hasil?

 

(Dari: Anggota Keluarga Allah, Kanisius, 1974)

Remember Our Saints: St. Leo Agung

Senin, November 10, 2008 0 komentar

Tanggal 10 November, hari ini, kita memperingati Santo Leo Agung, seorang Paus dan pujangga Gereja. Bagaimana kisah hidupnya?

 

Leo lahir dekat Roma. Waktu ia diutus ke Perancis pada tahun 440, ia dipilih menjadi Paus. Ia hidup dalam suatu masa penuh pegolakan. Suku-suku bangsa dari utara menyerang Roma, dan ajaran-ajaran sesat mengancam kesatuan Gereja di Timur Tengah. Sebagai seorang gembala yang baik, ia memperhatikan nasib umatnya. Dengan bahaya bagi hidupnya sendiri, Paus Leo menghadap panglima Atila dan membujuk dia untuk tidak menyerang kota Roma. Dan waktu Roma kemudian dirampok tentara lain, banyak orang selamat berkat usaha paus Leo Agung. Pada konsili di Kalsedon, ia berhasil memulihkan kembali kesatuan Gereja. Ia meninggal dunia pada tanggal 10 November 461, sesudah memimpin Gereja selama dua puluh satu tahun.

 

Pada setiap masa Gereja menghadapi pelbagai soal dan kesukaran. Tentulah para paus berusaha memecahkannya sedapat mungkin. Tetapi kita juga pada tempat dan dengan cara kita masing-masing bertanggung jawab terhadap keselamatan Gereja. Apakah kita bertindak sesuai dengan tanggung jawab itu?

 

(Dari: Anggota Keluarga Allah, Kanisius, 1974)

 

CLiGspiration: Tempayan Retak

Jumat, November 07, 2008 0 komentar

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, sedangkan Tempayan Retak hanya dapat membawa air setengah penuh.

 

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun Si Tempayan Retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya. Dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

 

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini,Tempayan Retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu." "Kenapa?" tanya si tukang air, "Kenapa kamu merasa malu?" "Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi."kata Tempayan itu.

 

Si tukang air merasa kasihan pada Si Tempayan Retak, Dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan." Benar, ketika mereka naik ke bukit, Si Tempayan Retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali Tempayan Retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

 

Si tukang air berkata kepada Tempayan Retak itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu, tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu, itu karena aku selalu menyadari cacatmu. Dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, Dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, Kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, Majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

 

(Dari: Ladyana Oscar)

 

P.S. Kita semua adalah tempayan retak. Ada kelemahan tetapi selalu ada gunanya. Jangan menyerah…

Anda Penting untuk Tuhan

Kamis, November 06, 2008 0 komentar

Dalam ibadah sabda pagi ini, teman saya berkotbah dari bacaan Injil yang berkisah tentang "Perumpaan tentang domba dan dirham yang hilang (Luk 15:1-10).

 

"Kecenderungan kita adalah menjauhi mereka yang bermasalah; menganggap mereka sebagai momok dalam keluarga atau dalam kelompok kita. Kita hanya mau bergaul dengan mereka yang sama baiknya dengan kita, yang sementara tidak bermasalah. Pagi ini, justru Yesus mengingatkan dan menghendaki kita untuk tetap mencintai dan bergaul dengan mereka yang kita anggap momok itu." Begitu kurang lebih isi kotbahnya.

 

Sementara itu saya bertanya dalam hati, mengapa seekor domba dan satu dirham yang hilang penting untuk Yesus? "Cuman satu ini? 'Kan masih ada yang lain yang lebih banyak."

 

Saya ingat topik ini pernah saya diskusikan dengan beberapa teman saya, bukan frater, tetapi orang-orang muda dampingan saya.

 

"Mengapa satu penting untuk Tuhan?"

 

Jawaban yang kami temukan bersama-sama waktu itu adalah Tuhan mencintai setiap orang; Dia ingin semua orang selamat. Itu pertama.
 
Yang lainnya, karena satu saja sudah cukup untuk mempengaruhi yang lain. Dibutuhkan hanya satu saja orang hilang yang sudah bertobat untuk mengingatkan kepada mereka yang tersisa dan tidak pergi ke mana-mana untuk tidak menempuh jalan yang pernah dia tempuh. Soalnya, jalan yang pernah dia tempuh itu sesat dan mematikan. Tidak ada untung apapun, baik masih di dunia apalagi di akhirat nanti.

 

Saya, waktu itu, menyebutnya sebagai "rahmat menjadi domba dan dirham yang hilang". Pengalaman tersesat dan hilang itu bisa menjadi rahmat bagi orang; bisa menjadi lilin bagi orang lain; bisa menjadi inspirasi bagi orang lain untuk tidak tersesat dan hilang. Karena terlalu mahal harga yang harus dibayar jika tersesat atau hilang.

 

Berbahagialah Anda yang pernah tersesat atau hilang. Itu pengalaman yang amat berharga. Untuk diri Anda sendiri maupun untuk orang lain.

 

Soalnya tinggal, apakah Anda mau belajar dari pengalaman itu atau tidak? Banyak orang tersesat dan hilang berulang kali karena tidak belajar dari pengalaman sebelumnya.
 
Bayangkan Anda penting untuk Tuhan. Padahal jelas-jelas ada banyak orang baik di dunia ini.

Membenci Keluarga: Maksudnya apa?

Rabu, November 05, 2008 0 komentar

"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku"  (Luk 14:26)

 

Dalam kuliah pagi ini kelompok kami, yang terdiri dari lima orang frater, mempresentasikan salah satu dari tiga keutamaan kristiani yaitu kasih—dua yang lainnya iman dan harap. Presentasi kami bertitik tolak dari perintah pertama dan terutama yakni "Kasihilah Tuhan Allah dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri".

 

Kasih, kasih dan kasih. Bukan kasih yang dikatakan saja kepada Allah dalam doa dan ibadah-ibadah. Tetapi kasih yang yang harus diwujudnyatakan kepada sesama.

 

"Interupsi," seru dosen kami, seorang romo senior (77 tahun usianya) dari Belanda. "Ingat bacaan Injil tadi pagi?" tanyanya kepada seisi kelas (15 orang frater).

 

Kami mengangguk-angguk. "Apakah tidak ada yang terkejut dengan kata-kata Yesus?" tanya lebih lanjut. " Yesus selalu menekankan kasih tetapi pagi ini Dia berbicara tentang membenci keluarga".

 

"Bagaimana memahami ini?" Kami terdiam. Saling menunggu untuk menjawab. Sampai seorang frater mengajukan jawabannya. "Bla-bla-bla".

 

Ini jawaban dosen kami, "Yang perlu diperhatikan adalah kata membenci itu sendiri. Membenci yang dipakai Yesus tidak sama artinya dengan membenci dalam bahasa Indonesia"

 

"Dalam bahasa Indonesia, membenci berarti tidak suka sama sekali, ingin berbuat jahat terhadap orang itu. Yang Yesus maksudkan dengan benci kepada keluarga bukanlah itu."

 

"Benci dalam bacaan Injil pagi ini berarti menempatkan keluarga pada urutan yang kedua setelah Tuhan. Atau, setelah Tuhan barulah keluarga. Bukanlah urusan-urusan duniawi dulu baru sesudah itu Tuhan belakangan"

 

Kami manggut-manggut, mengerti.

 

Remember Our Saints: St.Karolus Borromeus

0 komentar

Kemarin, tanggal 04 November, peringatan wajib Santo Karolus Borromeus, seorang Uskup. Siapakah dia?

 

Karolus Borromeus lahir di Arona, Italia Utara, pada tahun 1538. Setelah menjadi sarjana hukum gereja dan negara, pada umur dua puluh dua tahun ia diangkat menjadi Kardinal oleh pamannya, Paus Pius IV. Ia lalu bekerja keras untuk mempersiapkan dan menyukseskan Konsili Trente, yang bermaksud memperbaharui seluruh kehidupan Gereja. Pada tahun 1565, Karolus Borromeus diangkat menjadi uskup agung Milano. Ia berulang kali mengunjungi semua paroki dalam keuskupan agung yang luas itu, dan mengadakan rapat-rapat dengan para imam guna melaksanakan keputusan-keputusan Konsili. Sebagai bagian dari program pembaharuan yang mendalam, ia mendirikan seminari-seminari untuk menjamin pendidikan yang baik bagi calon-calon imam. Ia juga berhasil menghidupkan kembali semangat kristen umatnya, dan sekuat tenaga membantu mereka, khususnya ketika pada tahun 1576-1577 kota Milano dilanda wabah sampar. Ia meninggal dunia pada tanggal 3 November 1584, pada umur empat puluh enam tahun.

 

(Sumber: Anggota Keluarga Allah, Kanisius, 1974)

CLiGspiration: Jalani Kehidupan

Senin, November 03, 2008 0 komentar

Ditanya tentang naik-turun kariernya, bintang film Kevin Costner menjawab dengan kalimat ini, "Saya menjalani kehidupan." Saya merasakan jawaban ini sangat dalam. Daripada menghabiskan hari-harinya dengan menilai banyak kejadian dan pengalaman hidupnya sebagai baik atau buruk, ia mengambil sikap netral dan memutuskan untuk menerima berbagai kejadian itu seperti apa adanya: bagian alamiah dari jalan yang ia lalui.

 

Kita semua melewati jalan-jalan yang berbeda ke arah tujuan utama kita. Bagi beberapa orang di antara kita, jalan itu lebih berbatu dibandingkn jalan orang lain. Namun tidak ada seorangpun yang mencapai ujungnya tanpa mengalami beberapa bentuk kemalangan. Jadi, daripada melawannya, mengapa tidak menerimanya sebagai jalan hidup? Mengapa tidak melepaskan diri dari hasilnya dan mengalami saja setiap situasi yang memasuki hidup Anda untuk memperoleh hidup yang lengkap? Alami rasa sakit dan nikmati kebahagiaan. Jika Anda tidak pernah pergi ke lembah, pemandangan dari puncak gunung tidak akan terasa memesona. Ingatlah, tidak ada kegagalan sejati di dalam hidup, yang ada hanyalah hasil. Tidak ada tragedi yang nyata, yang ada hanyalah pelajaran. Dan, tidak ada masalah, yang ada hanyalah kesempatan yang menunggu untuk diakui sebagai solusi oleh orang yang bijaksana.

 

(Dari: Robin Sharma, Who Will Cry When You Die?, 1999)

 

P.S. Happy Monday….

Gak Ada yang Tahu? Yakin?

Sabtu, November 01, 2008 0 komentar

Kalau dihitung-hitung saya sudah menyandang status frater selama 7 tahun. Selama tahun-tahun itu, ada saat-saat saya mendadak bisa berpikir bodoh dan konyol.


Bodohnya apa? Konyolnya di mana?


Taruhlah saya sedang jalan-jalan di mall atau karena lagi suntuk pengen ke bioskop, nonton film. Yang aneh adalah saya suka berpikir, "paling orang gak tau kalo saya frater".

Bodoh.


Konyol.


Mengapa?


Pas sok yakin begitu, tiba-tiba entah dari mana "hi frater". Deg, teman saya, kenalan saya atau umat yang pernah saya layani. Kadang, tidak menyapa, hanya senyum-senyum kenal. Saya suka geleng-geleng kepala. "Nasib, nasib". Waktu di tempat pastoral, di Jakarta, suatu malam dua orang teman saya mengajak saya makan malam di sebuah mall yang baru buka. "Ayo…".


Pikiran bodoh itu muncul lagi. Mall-nya jauh sekali dari tempat saya berpastoral soalnya. Saya tau Anda sudah bisa menebak kelanjutan ceritanya.


Malam itu juga beredar sms yang bunyinya kurang lebih, "frater jalan ama dua cewek cakep euy…".


Pernah mengalaminya? Melakukan sesuatu dan berpikir kalo orang tidak tahu dan tidak akan tahu tetapi ternyata itu pikiran bodoh dan konyol karena di sudut sana ada yang diam-diam mengamati Anda.

Poinnya sederhana: persis ketika kita tergoda untuk berpikir "gak bakalan ketauan-lah ini," berhati-hatilah saudara-saudariku. Anda akan ketahuan. Bisa jadi pada saat itu juga.

Bagian bodoh dan konyol yang berikut adalah bukannya ada Tuhan yang melihat? Tidak ada orang mungkin saat itu. Tapi ada Tuhan. Tentu saja Tuhan tidak akan berdiam diri melihat kita bertindak seenak perut.


Oh ya, konon katanya karakter seseorang baru akan jelas (dia orang seperti apa?) ketika dia melakukan sesuatu sambil berpikir "gak ada orang yang tau ini".

Jadi, setiap kali Anda berpikir tidak akan ada yang tahu, tanyakan kepada diri sendiri, "yakin?".