The Pursuit of Happiness

Senin, Juli 14, 2008

Pada halaman dalam The Jakarta Post kemarin (13/07) tertera judul besar yang menarik perhatian, The world is becoming a happier place: Study. Kepala beritanya demikian:

The world is becoming a happier place, a study published in this month's Perspectives of Psychological Science shows.

Saya menyingkat saja berita yang panjang itu. Penelitian yang dilakukan di sejumlah besar negara menunjukkan adanya peningkatan kebahagiaan. Apa sebab peningkatan itu?

Economic growth, democratization and tolerance are strongly linked with happiness… Democracies are significantly happier than non-democratic countries; prosperous countries tend to be happier than poor countries; and tolerant people—even intolerant people living in tolerant society—tend to be happier.

Paragraf terakhir dari berita itu menyajikan kesimpulan sekaligus pesan tersembunyi dari penelitian:

The result clearly show that the happiest societies are those that allow people the freedom to choose how to live their lives…

Saya berharap Indonesia juga termasuk yang diteliti, ternyata tidak! Jadi, tidak jelas bagaimana tingkat kebahagiaan Indonesia. Tapi tidak perlulah kita memikirkan tingkat kebahagiaan 200-an juta orang. Saya tahu memikirkan pekerjaan hari ini saja, barangkali, sudah pusing. Jadi, mari memeriksa diri sendiri saja.

Bahagiakah Anda? Bahagiakah pasangan Anda? Bahagiakah anak-anak Anda? Bahagiakah orang tua Anda?

Saya ketemu dengan banyak orang yang kelihatannya bahagia, dan karena itu saya kira bahagia, ternyata tidak! Saya salah menebak. Benar, tampang bisa menipu. Saya ketemu dengan banyak anak yang riang gembira, pasti bahagia? Tidak juga. Sebagian menderita tekanan batin yang luar biasa; tekanan dari keluarganya, dari orang tuanya. Apa sebabnya? Persis kebalikan dari kesimpulan di atas: mereka yang tidak bahagia, paling tidak yang saya temui, adalah mereka yang tidak diijinkan memilih sendiri bagaimana ia hidup, bersekolah, kuliah, menjalani karir dan memilih pasangan hidup. Mereka tidak bebas memilih! Padahal kebebasan, jika diberikan, akan menimbulkan tanggung jawab.

Pernah nonton The Pursuit of Happyness? Itu film yang dibintangi oleh Will Smith dan anaknya. Film favorit saya. Salah satu adegan yang paling saya sukai (saya memutar adegan ini berulang-ulang) adalah ketika Will Smith menasehati anaknya demikian, "Jangan biarkan seseorang mengatakan kau tidak bisa melakukan sesuatu. Bahkan saya, ok? Jika ingin sesuatu, kejarlah".

Orang mengejar kebahagiaan. Anda mengejar kebahagiaan. Anak-anak Anda juga mengejar kebahagiaan. Soalnya tinggal, apakah kita bebas mengejarnya? Apakah mereka bebas mengejarnya?

Bahagiakah Anda?

2 komentar:

Anonim at: 14/7/08 1:14 PM mengatakan...

Morning Frat..
Kebahagian itu sesuatu yang paling asasi.. Ngga ada seorang pun di dunia ini yang bisa menghalangi kita dan merampas hak kita untuk menjadi bahagia..
Menurutku, happiness is a state of mind..
Kalo kita mau selalu berusaha untuk bersyukur atas apapun yang kita miliki, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita berada dalam satu proses "pursuing our happiness" yang sejati..
Have a blessing day..
-Mega-

Anonim at: 19/7/08 8:45 PM mengatakan...

Kalau misalnya kita sudah punya anak... dan kita memaksakan 'agama' kita ke sang anak, tanpa memberikan kebebasan untuk dia memilih dulu... tanpa memberikan dia kebebasan untuk mengetahui apa saja pilihan dia untuk beragama... apakah dia bakalan bahagia? sorry kalo gak nyambung cuman 'just wondering' aja. Apakah betul bila kita sudah punya anak, kita bisa membaptiskan si anak itu without his or her consent? Again, 'just wondering'...


PAMIT