Ternate: Seri Ketiga

Senin, April 19, 2010

Seri ketiga: Istirahat saja

Masih seputar percakapan kami dengan romo paroki saat makan malam di hari pertama kami tiba di Ternate.

"Kapan torang pi di stasi, pastor?" tanya saya dengan bersemangat, sedikit tidak sabar ingin bertemu umat. (Kapan kami ke stasi, pastor?)

"Nanti. Istirahat dulu" jawab beliau, singkat.

Pikir saya, mungkin maksudnya malam ini istirahatnya besok baru berangkat. Saya tidak bertanya lagi. Topik pembicaraan berpindah.

Ternyata keliru. Kami tiba di Ternate hari senin sore dan baru berangkat ke stasi (saya dan teman saya pergi ke stasi yang berbeda) pada hari Kamis pagi.

Apa yang kami lakukan selama kurang lebih tiga hari itu? Tidur, bangun, mandi, misa pagi, sarapan, nonton TV, tidur, bangun, makan, nonton TV, tidur lagi, bangun lagi, mandi, jalan-jalan sebentar (liat-liat kota atau beli koran KOMPAS di distributor yang jaraknya 300 meter dari pastoran), makan, nonton TV, tidur…

Istirahat.

Adakah saya menikmatinya? Kalau Anda terbiasa bekerja dari pagi sampai malam, istirahat yang sedemikian bisa sangat menyiksa. Belum lagi melihat kesibukan romo paroki dan karyawan pastoran dan sekretariat paroki, siksaan bertambah dua kali.

Pada hari rabu pagi, ketika saya mulai uring-uringan karena tidak ada yang bisa dikerjakan, saya mulai berpikir, "Bahkan mobil dengan laju gila-gilaan seperti dalam perlombaan F1 pun beberapa kali harus melambat dan berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar".

Tubuh saya butuh istirahat. Hidup saya perlu diperlambat dan berhenti sebentar. Jiwa saya butuh menarik nafas, mengaso, mengisi ulang bahan bakar.

Mungkin juga, ada kalanya, Tuhan memang menghendaki saya beristirahat.

Ok-lah. Tidak ada yang salah dengan tidak mengerjakan apapun selama satu-dua hari.

Istirahat.

Hari Kamis pagi pada saat sarapan romo paroki mengatakan bahwa selesai sarapan saya harus berangkat ke stasi. Masa istirahat selesai. Saatnya bekerja.

Sebelum berangkat beliau meminta saya menemuinya di ruang kerjanya. Di sana beliau menjelaskan rute perjalanan saya menuju stasi.

Mendengar penjelasan beliau saya tersadar, memang saya sungguh membutuhkan istirahat tiga hari. Ada maksudnya ternyata beliau meminta kami beristirahat saja di pastoran.