Ternate: Seri Kesebelas

Selasa, April 27, 2010

Seri kesebelas: Ketika tak ada signal HP

Apa guna sebuah handphone (HP)? Jawabannya: tergantung jenis apa yang kini Anda pegang. Juga tergantung apa saja kepentingan Anda. Kalau pertanyaan ini dilontarkan kepada teman saya, jawabannya tidak serumit itu. "HP ya buat nelpon dan SMS. Titik". Anda bisa jadi memberikan jawaban yang sama atau lebih rumit dari teman saya.

Tetapi jika saya mengatakan fungsi pertama dari HP untuk komunikasi, Anda pasti sepakat. Meminjam moto Nokia, connecting people. Iya kan?

Kalau Anda menjawab iya, itu karena Anda belum menginjakkan kami di daerah transmigrasi sana.

Ketika longboat yang saya tumpangi dari Weda tiba di desa Lelief, saya diberitahu signal handphone baru sampai di desa tersebut. 'Ok, berarti cuma saya yang pegang handphone di tengah umat nanti' pikir saya. Jadi, sebelum mencari ojek yang akan membawa saya ke daerah transmigrasi yang jauh ke dalam hutan, saya menyimpan benda tersebut. 'Tidak ada gunanya juga'.

Setelah menempuh jarak 12 kilometer tibalah saya di tengah umat. Dan surprise… Anak-anak mudanya asyik dengan handphone (HP) di tangan. Beberapa orangtua di usia 30-an tahun juga sama.

Kening saya berkerut, 'Apa gunanya ya HP di tengah hutan tanpa signal ini?'. Segera saya melihat jawabannya: memutar musik, mendengar Ariel Peterpan bersenandung.

Untuk kita, HP itu sarana komunikasi. Untuk umat di daerah transmigrasi sana, HP itu semacam turntable-nya DJ.

Kenyataan itu membuat saya lebih menghargai fasilitas pemutar musik di telepon genggam saya—yang praktis selama ini saya abaikan, padahal sudah ada ratusan lagu di sana. Kenyataan itu pula membuat saya menetapkan dua peraturan dasar. Peraturan pertama, kumpulkan data tentang tempat yang akan tuju. Jangan berasumsi. Dilarang mengandaikan. Apalagi menganggap remeh orang atau fasilitas yang tersedia/tidak tersedia di sana. Hidup ini penuh kejutan. Peraturan kedua, bawalah handphone ke manapun pergi. Jika tidak ada signal, jangan dimatikan dan disimpan saja. Saatnya mendengar Ariel bernyanyi (aneh, jika tidak ada signal, ternyata suara Ariel jauh lebih merdu dari yang saya pikirkan selama ini).

Di atas semua itu yang paling penting dari situasi-tidak-ada-signal itu adalah tidak ada interupsi, tidak ada pengalih perhatian bernama SMS, panggilan masuk/tak terjawab dan email.

Karenanya saya bisa sungguh-sungguh memperhatikan dan mendengarkan dengan telaten umat yang sedang bercerita kepada saya; saya bisa sungguh-sungguh menikmati jagung bakar di tangan; saya bisa sungguh-sungguh menikmati kebersamaan dengan umat; saya bisa sungguh-sunguh menikmati hidup.

P.S: Kalau orang-orang Nokia berkesempatan berkunjung ke daerah transmigrasi sana, mereka akan ditanya balik "Connecting people apaan?"