Ternate: Seri Keempat

Senin, April 19, 2010

Seri keempat: Soalnya bukan sepadan atau tidak sepadan

Hari kamis pagi (01/04) di pastoran paroki. Sehabis sarapan romo paroki meminta saya menemuinya di ruangan kerjanya. Di sana beliau menjelaskan ke mana saya akan diutus dan rute yang akan saya tempuh.

Saya manggut-manggut mengerti.

Tidak ada yang mengantar. Pun tidak ada yang akan menjemput. Saya harus mencari sendiri. Sudah berapa kali saya ke Ternate? Inilah pengalaman pertama saya.

Maka, saya mengandalkan kepercayaan romo paroki ("Kamu kelihatan bisa berkomunikasi dengan orang karena itu saya berani mengutus kamu ke sana"), penyelenggaraan Ilahi (Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya), keberanian sendiri alias nekat (masa sih gak bisa?!) dan … Rp. 1.000.000.

"Itu transport kamu pulang pergi" kata si romo.

Ok, tapi satu juta?

Romonya lalu menjelaskan lagi mengapa satu juta rupiah hanya untuk transportasi saja.

Baiklah.

Pukul 08.30 WIT saya meluncur dari pastoran ke tempat tugas. Sodara-sodara, malamnya sudah perayaan Kamis Putih. Saya berharap semoga bisa merayakannya bersama dengan umat.

Inilah rute perjalanan saya (saya menyebut tempatnya, siapa tahu Anda berkunjung ke sana, paling tidak Anda tahu di belahan timur Indonesia ada daerah-daerah ini). Dari kota Ternate saya menumpang speedboat menyeberangi laut ke kota Sofifi. Dari sana saya melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum (masih ingat kan kalau angkutan umum di wilayah ini mobil jenis Avanza dan sejenisnya?) ke kota Weda. Kondisi jalan yang kami lalui terdiri atas tiga bagian: mulus, rusak dan rusak parah. Kebanyakan rusak dan rusak parah.

Dari Weda saya harus menempuh rute laut lagi. Speedboat yang melayani penyeberangan antarpulau sudah berangkat 10 menit sebelum saya tiba di pelabuhan Weda. Syukurlah masih ada longboat. Dengan boat ini diiringi hujan yang tidak mau kompromi, saya menyeberang ke desa Lelief. Dari desa ini dengan menggunakan ojek—itu satu-satunya alat angkut yang tersedia—saya harus menempuh jarak 12 kilometer untuk sampai ke stasi di mana saya akan merayakan Trihari Suci dan Paskah. Stasinya ada di tengah hutan, daerah transmigrasi.

Saya tiba di daerah transmigrasi nyaris pukul 18.00 WIT.

Tukang ojek yang sudah mengenal umat Katolik di sana langsung mengantar saya ke rumah Ketua Stasi.

Setelah bercerita beberapa saat dengan Ketua Stasi yang usianya sekitar 30-an tahun, saya bertanya, "Berapa umat di sini?" (ini pertanyaan yang tidak sempat saya tanyakan kepada romo paroki).

"15 kepala keluarga (KK), frater"

"15 KK?" Saya hampir tidak mempercayai pendengaran saya.

Ia mengangguk tegas.

Jadi, saya menempuh perjalanan nyaris 10 jam tanpa henti, diguyur hujan deras, seluruh badan pegal dan sakit karena kondisi jalan yang memprihatinkan dengan ongkos sejuta rupiah hanya untuk bertemu dengan 15 KK?

Ketika saya merebahkan diri di tempat tidur sebentar sebelum mempersiapkan diri memimpin ibadah Kamis Putih, saya teringat kata-kata pemimpin tarekat kami, MSC, dalam sebuah kesempatan, "Umat, sesedikit apapun, berhak untuk digembalakan. Selebihnya serahkan kepada Roh Kudus".

Mengingat itu saya mengatakan kepada diri sendiri, "Untuk sebuah pelayanan dan keselamatan jiwa-jiwa, soalnya bukan lagi sepadan atau tidak sepadan, sebanding atau tidak sebanding".

Tubuh saya masih sangat capek. Tetapi jiwa saya sudah segar kembali, siap untuk memimpin perayaan cinta kasih Kristus di malam itu.