Jawaban: Bukan Karena Kurang Bersyukur

Senin, Mei 16, 2011

Soalnya adalah mengapa kita begitu gampang mengganggap rumput tetangga lebih hijau?

Dua minggu lalu, guru bahasa Jepang kami bercerita di kelas tentang putrinya, bocah cilik berusia 2,5 tahun.

Tipikal ibu-ibu muda yang sangat bersemangat jika sedang bercerita tentang anaknya, begitupun guru kami.

Putrinya ini anaknya yang pertama (dan mungkin satu-satunya, karena "Biaya hidup di Jepang tinggi" alasan beliau).

Beliau bercerita, anak semata wayangnya ini diguyuri dengan pujian oleh siapapun yang bertemu dengannya pertama kali.

"Kawaii".

Ini kata Jepang yang mengandung beberapa arti dalam bahasa Indonesia: imut, manis, cantik, mungil.

Seperti layaknya pula anak kecil, putrinya sangat menikmati guyuran pujian itu.

Sampai suatu hari mamanya dibuat terkejut.

"Kawaii…"

Muka bocah cilik ini tiba-tiba merengut kesal mendengar pujian itu.

"Kawaikunai" balasnya. ("Enggak!!!")

"Heh, doshite?" tanya mamanya, penasaran. ("Heh, kenapa?")

Lebih cantik temannya, jawab si bocah.

Sekarang, mengapa kita begitu gampang menganggap rumput tetangga lebih hijau?

Bukan, pertama-tama, karena kita kurang bersyukur.

Tetapi karena kita sudah mulai membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain persis ketika kita mulai tahu berbicara dan mengenal orang lain yang kita sebut teman.

Membanding-bandingkan itu sesuatu yang sudah mengalir di dalam darah kita.

"Menarik ya mengikuti perkembangan pikiran anak-anak" kata guru kami kepada kami di kelas menutup cerita siang itu.

Pastinya.

P.S: Melihat ibu-ibu muda (seperti guru kami) yang sangat bersemangat ketika bercerita tentang anaknya mulai jadi pemandangan biasa untuk saya. Entah kenapa, saya belum pernah melihat dan merasakan semangat yang sama dari bapak-bapak muda. Mungkin hanya perasaan saya saja…