Bukan Karena Jatuh

Sabtu, Januari 08, 2011

"Kenapa?"

"Gak ada yang liat saya jatuh" jawab si bocah sambil terus menangis. Yang bertanya itu ayahnya.

Rupanya si bocah terpeleset dan jatuh ketika ia sedang bermain di atas tumpukan salju.

Sang ayah dengan pengertian meraihnya ke dalam pelukannya dan menggendongnya ke dalam rumah.

Yang luar biasa dari kisah biasa di negara empat musim ini adalah bocah itu cukup polos untuk mengakui penyebab tangisnya.

Bukan sakit karena jatuh (meski jatuh di atas es yang membeku pastilah sedikit atau banyak rasanya sakit juga).

Kenyataan bahwa tak ada orang di sana yang bersimpati kepadanya yang menyebabkan ia menangis.

Bocah itu menyuarakan apa yang biasanya orang dewasa sembunyikan tetapi tak jarang dilakukan (entah sadar atau tidak sadar).

Adakalanya perhatian orang lain membuat sakit yang kita alami jadi membaik.

Tetapi adakalanya perhatian mereka menyebabkan keadaan kita malah memburuk.

Adakalanya perhatian yang kita terima malah membuat kita tambah manja; badan tambah capek; penyakit bukannya sembuh malah tambah sakit.

Manusiawi.

Tapi bisa merugikan.

Terutama jika si pemberi perhatian mengetahui belang kita (dan berhenti memberi perhatian).

Terutama jika kebutuhan kita akan perhatian menyulap kita menjadi, seperti kata orang bijak, anak-anak yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.