Dari Belanda Tentang Iman

Sabtu, Februari 06, 2010

Sekali peristiwa, Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka berdua-dua … dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat; roti pun tidak boleh dibawa, demikian pula bekal dan uang dalam ikat pinggang; mereka boleh memakai alas kaki, tetapi tidak boleh memakai dua baju. (Mrk. 6:7-9)

Dosen saya pernah bercerita tentang masa kecilnya bersama adiknya di negeri Belanda sana.

Katanya, pernah suatu pagi adiknya, yang baru berusia lima tahun, dengan kenakalan khas anak-anak memanjat meja makan di rumah mereka dan dengan bangga berdiri di atasnya. Secara tak terduga, sang adik mengatakan bahwa ia akan melompat ke pangkuan papanya yang sedang duduk agak jauh (tetapi masih bisa dijangkau dengan satu lompatan anak-anak) sambil membaca koran.

Papanya yang mendengarnya langsung menurunkan korannya.

Bocah lelaki lima tahun itu tidak sedang bercanda.

Tanpa ragu-ragu sedikitpun ia melompat. Ia tidak takut. Ia Benar-benar melompat ke dalam pelukan papanya yang sudah bersiap-siap pula menangkapnya.

Berhasil.

Bocah berani itu tertawa dalam pelukan papanya yang hangat.

"Itulah iman" kata dosen saya. Adiknya percaya bahwa papanya tidak akan membiarkannya terjatuh. Ia akan menangkapnya dan membawanya dalam pelukannya. Dan memang benar demikian: ia menerima apa yang dipercayainya.

Baca kembali pesan Yesus kepada para murid di atas. Bandingkan dengan kisah dosen saya.

Sudah dapat?

Kalau belum, maksudnya ini: Yesus mengharap iman dari pada murid-Nya. Yesus mengharap para murid-Nya percaya bahwa Ia akan memelihara mereka sepanjang perjalanan.

Saudara-saudara, Tuhan punya cara memelihara hidup kita masing-masing. Tuhan itu baik.

Jangan khawatir. Milikilah iman.

P.S: Selamat bersenang-senang di akhir pekan ini ya. Jangan khawatir. Tuhan punya cara. Selalu begitu.