Ayat Favorit Hari Ini

Senin, September 28, 2009


"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah"

Gara-Gara Iri Hati (2)

Menyambung lagi topik iri hati.

Sebenarnya iri hati itu manusiawi. Yang berarti alamiah dan wajar. Kalau ada seseorang yang mengaku tidak pernah iri hati kepada orang lain, patut dicurigai adakah ia jujur terhadap dirinya sendiri.

Maka saya tidak pernah yakin kalau ada orang mengatakan bahwa iri hati bisa dihilangkan seperti sisa makanan di atas meja. Tidak bisa. Dan tidak akan pernah bisa. Perasaan tidak mengenakkan yang tidak sakit-sakit amat itu tidak akan pernah bisa dihilangkan.

Jadi, bagaimana mengatasi iri hati?

Tidak bisa!

Yang bisa kita lakukan adalah mengatasi efek dari iri hati itu. Sama seperti Anda tidak bisa membuat supaya Anda tidak lapar lagi selamanya. Rasa lapar akan selalu muncul. Makan adalah cara mengatasinya.

Jadi, bagaimana cara mengatasi efek iri hati?

Sederhana saja: jujur. Jujur terhadap diri sendiri. Jujur dengan perasaan sendiri. Akui saja bahwa Anda iri melihat pencapaian orang lain. Akui saja bahwa perasaan tidak mengenakkan, perasaan yang sakit itu sedang bercokol dalam diri Anda.

Kejujuran itu akan membantu Anda mengontrol reaksi-reaksi bodoh yang muncul setelah iri tersebut.

Reaksi-reaksi bodoh terjadi karena orang tidak jujur bahwa ia iri hati.

Cara lain yang tak kalah sederhana: bersyukur. Bersyukurlah atas apa yang sudah Anda capai sekarang. Bersyukurlah atas kemampuan, bakat, talenta, ambisi dan impian yang masih Anda miliki yang akan Anda kembangkan dan wujudkan.

Jangan lupa, bersyukur juga karena Anda masih bisa iri hati. Mengapa? Selain efeknya negatif, iri juga bisa positif. Iri hati bisa memacu Anda untuk lebih berusaha lagi. Iri hati bisa memacu Anda untuk tampil lebih baik lagi. Iri hati bisa memacu Anda untuk kerja lebih baik lagi.

Akhirnya, bagaimana kita memandang perasaan iri hati itu? Kalau bisa, tentu saja, kita ingin tidak ada lagi perasaan tersebut. Tetapi lihat pengalaman Santo Paulus. "Dan supaya aku jangan meninggikan diri…, maka aku diberi suatu duri dalam dagingku, yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya kau jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna' (2 Kor. 12:7-9a).

Mari bersama-sama Santo Paulus kita berkata, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Kor. 12:9b).

Gara-Gara Iri Hati

Rabu, September 23, 2009

"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat" (Yak. 3:16)

Awalnya saya mengira Rasul Yakobus sedikit berlebihan ketika menuliskan kata-kata di atas. Bisa saja kan seorang Rasul mendramatisir sesuatu untuk kepentingan pewartaannya?

Sumber kekacauan dan kejahatan itu iri hati dan egois? Yang benar saja!

Tetapi setelah mengingat-ingat lagi pengalaman pribadi ternyata beliau tidak berlebihan. Benar.

Sebelumnya, apa sebenarnya iri hati itu? Iri hati itu perasaan yang muncul setelah melihat orang lain mendapatkan apa yang kita inginkan setengah mati tetapi tidak kita dapatkan. Dan perasaan itu perasaan yang sangat tidak mengenakkan, sakit yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tidak sakit amat-amat sebetulnya tetapi cukup untuk membuat kita bertindak bodoh.

Bertindak bodoh itu, antara lain, seperti menyebarkan gosip murahan, mengkritik berlebihan, sinis, mendendam, menikamnya dari belakang, sok pamer.

Bertindak bodoh itu, antara lain, seperti mencari rasionalisasi untuk segala macam tindakan bodoh di atas. Seolah-olah orang yang kita iri hatii itu pantas mendapatkannya. Seolah-olah ia memang pantas dikritik. Seolah-olah ia memang layak dijatuhkan.

Bertindak bodoh itu ,antara lain, seperti tidak menerima bahwa setiap orang memiliki rahmat dan talenta berbeda-beda. Padahal "Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mukjizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu" (1Kor 12:7-10).

Bertindak bodoh itu, antara lain, seperti meremehkan kemampuan sendiri untuk memperoleh apa yang diinginkan.

Lihat... Betapa perasaan yang tidak sakit-sakit amat itu mengacaukan hidup kita. Betapa perasaan yang tidak sakit-sakit amat itu membuat kita jadi tidak rasional lagi. Betapa perasaan yang tidak sakit-sakit amat itu merendahkan mutu kita sebagai manusia. Betapa perasaan yang tidak sakit-sakit amat itu membuat kita menjadi manusia yang kalah. Betapa perasaan yang tidak sakit-sakit amat itu seperti setitik nila yang merusak susu sebelanga.

Lalu, bagaimana mengatasinya? Akan kita bahas di lain kesempatan dalam waktu dekat ini.

Inspirasi Hari Ini

Senin, September 21, 2009

Miley Cyrus di Jalan Kedewasaan

"Jadilah teladan bagi orang-orang beriman, dalam perkataan dan tingkah laku, dalam kasih, kesetiaan dan kesucianmu" (1Tim. 4:12b)

Serius, pada tahap mana sebenarnya seseorang disebut dewasa?

Beberapa waktu yang lalu, Miley Cyrus, pemeran Hannah Montana yang kesohor itu berpose tanpa penutup punggung untuk sebuah majalah fashion terkemuka. Protes dan kritik segera menghantam. "Ia adalah idola anak gadis saya. Sudah semestinya ia tidak melakukan itu. Seharusnya ia menjadi teladan yang baik" adalah salah satunya. Miley, sang idola banyak gadis remaja itu, akhirnya meminta maaf.

Saya tidak tahu adakah ia dongkol bahwa ia tidak bisa lagi berekspresi seturut hasrat hatinya. Karena sekarang ada masa depan jutaan ABG di seantero dunia yang harus dipikirkannya. Seolah-olah masa depan mereka ditentukkan olehnya.

Siapa bilang selalu menyenangkan punya banyak fans?

Semalam saya bercerita dengan seorang ibu muda beranak satu.

"Masih mau tambah anak lagi?" tanya saya. (Waktu menuliskan ini, saya baru menyadari pertanyaan itu kedengaran seperti saya dan si ibu sedang makan di sebuah warteg dan bertanya adakah ia ingin es teh manis lagi).

"Jauhkan ya Tuhan. Saya masih ingin bebas" jawabnya tegas.

Saya belum menikah. Apalagi punya anak. Tapi dari banyak cerita saya tahu mengurus anak apalagi anak-anak bukan perkara ringan. Termasuk di dalam 'bukan-perkara-ringan' itu kenyataan bahwa orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya. Karena anak belajar bertingkah laku dengan, antara lain, melihat dan meniru orang tuanya. Jawaban si ibu bisa dimengerti

Jadi, pada tahap mana seseorang disebut dewasa?

Ini: ketika seorang menyadari bahwa selain memang harus 'menjadi diri sendiri' seperti talenta yang harus dikembang, ia serentak mulai menyadari juga bahwa sudah ada orang lain di bawahnya yang melihat dan akan terpengaruh oleh gerak-geriknya. Ketika ia berpikir, membuat pilihan dan mengambil keputusan sesuai dengan kesadarannya itu. Ketika ia bertindak sesuai dengan kesadarannya itu.

Ini yang membedakan anak kecil dengan seorang dewasa.

Anak kecil hanya ingin menjadi diri sendiri, mereka bisa semaunya saja. Bertindak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan baik untuk mereka. Tapi mereka anak-anak. Belum ada tanggung jawab. Perkembangan mereka baru sampai di situ.

Tidak mudah memang menjadi dewasa.

Saya sendiri kadang kembali anak-anak. Kadang bisa dewasa. Dan itu masih terjadi ketika saya sudah berusia 27 tahun.

Mmmmm… perjalanan masih panjang.

P.S: Dalam semangat Idul Fitri, jika ada kata-kata yang melukai hati Anda, maafkan saya.

Hati-Hati Dengan Kesan Anda

Kamis, September 17, 2009

"Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa" (Luk. 7:33-34)

Harus diakui beberapa tagline iklan tidak mau pergi dari ingatan. Seperti, 'Makannya apa saja, minumnya teh botol sosro'. Atau yang dari zaman baheula, 'Kesan pertama begitu menggoda…'.

Nah, ngomong-ngomong tentang kesan, kalimat andalan dosen sosiologi saya sama statusnya dengan beberapa iklan itu. Katanya, "Kesan itu bisa salah, bisa juga benar. Namanya saja kesan".

Kata-katanya mengungkapkan persis apa yang biasanya saya lakukan.

Andalan saya kalau memberi pendapat tentang seseorang adalah "Kesan saya bla-bla-bla". Dan akan ditutup dengan "Ya gak tau benar apa gak….". Penutup ini untuk mengatakan bahwa saya belum tahu pasti siapa dia sebenarnya (tapi sudah lancang mengatakan sesuatu tentang dia). Tetapi juga berarti setiap saat saya bisa lari dari tanggung jawab jika apa yang saya katakan itu salah besar. "Namanya juga kesan…".

Maka yang harus ditambahkan dalam kalimat andalan dosen saya itu adalah "Kesan bisa membuat seseorang jauh lebih baik dari faktanya. Bisa juga sebaliknya, membuat seseorang jauh lebih jahat dari faktanya".

Mau contoh? Gampang. Baca lagi kutipan Kitab Suci di atas.

Contoh lain. Suatu hari saya menumpang angkutan umum, pulang ke rumah. Saya duduk di depan bersama pak supir yang penampilannya demikian: lengannya yang terbuka memperlihatkan tato yang menutupi kulitnya. Masih dihiasi lagi dengan bekas-bekas sayatan silet. Anting-anting mengintip dari salah satu telinganya yang ditutupi rambut yang awut-awutan. Badannya gempal.

Apa kesan Anda?

"Preman, pemabuk, pecandu narkoba" kesan saya. Apalagi kalau bukan itu? Artinya saya harus waspada.

Tiba-tiba tangannya bergerak menyetel lagu.

Ternyata, saudara-saudara, salah lagu favorit saya, 'Lingkupiku dengan sayap-Mu, naungiku dengan kuasa-Mu…'.

Satu hal lagi tentang soal kesan ini. Kesan, sekalipun hanya kesan (yang bisa-salah-bisa-benar itu), sering bertahan lama dalam pikiran kita. Dan sialnya, sering pula amat menentukkan tindakan kita selanjutnya terhadap orang bersangkutan.

Hati-hati dengan kesan Anda.

Membuka Mata Orang Buta

Sabtu, September 12, 2009

"Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?" (Luk. 6:39)

Ada saatnya orang tidak memahami Anda.

Siapa Anda. Apa yang sedang Anda perjuangkan. Mimpi-mimpi Anda. Obsesi-obsesi Anda. Rencana masa depan Anda. Bagaimana Anda menjalani hidup. Pilihan-pilihan hidup Anda. Ketakutan-ketakutan Anda. Kebahagiaan-kebahagiaan Anda. Kebutuhan-kebutuhan Anda.

Ada saatnya orang tidak memahami Anda.

Bagaimana mungkin Anda melakukan semuanya itu. Mengapa Anda melakukannya. Mengapa Anda tetap melakukannya juga.

Ada saatnya orang tidak memahami Anda.

Ampunilah mereka.

Karena ada saatnya orang-orang tersebut hanya tidak mau tahu dengan keadaan Anda yang sebenarnya.

Karena ada saatnya orang-orang tersebut melihat hidup ini hanya dari sudut pandang mereka.

Karena ada saatnya pikiran orang-orang tersebut terlalu sempit untuk bisa menampung luasnya pikiran Anda.

Karena ada saatnya hati orang-orang tersebut sudah terlalu sesak untuk bisa menampung hati Anda.

Ampunilah mereka. Karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Karena ada saatnya mata orang-orang tersebut tidak bisa melihat apa yang Anda lihat.

Karena ada saatnya orang-orang tersebut hanyalah sekumpulan orang buta.

Maka untuk menolong orang-orang buta tersebut, beberapa pertanyaan-pertanyaan ini layak dipikirkan.

Sudahkah Anda membuat diri Anda jelas untuk mereka?

Sudahkah Anda berusaha agar mereka melihat apa yang Anda lihat?

Kalau belum, bukan hanya "ada saatnya" Anda tidak dipahami. Anda akan "sering" tidak dipahami.

Memang akan melelahkan usaha untuk membuat diri Anda jelas untuk mereka. Tetapi usaha itu akan sepadan dengan hasilnya.

Happy weekend…

Nasib Orang Terkenal

Rabu, September 09, 2009

"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham… Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub… Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus" (Mat. 1:1-16).

Kata dosen Kitab Suci saya, Injil Matius ditulis untuk orang-orang keturunan Yahudi yang berkebudayaan Yunani. Mereka ini dianggap bukan orang Yahudi. Mereka ditolak. Karena itu silsilah ini ditulis untuk menyatakan bahwa Yesus yang mereka imani dan ikuti sungguh-sungguh adalah orang Yahudi. Karena itu mereka yang mengikutinya pun anak Daud dan anak Abraham. Mereka bukan orang asing dalam masyarakat Yahudi. Mereka sungguh-sungguh orang Yahudi.

Di sisi lain, silsilah itu memperlihatkan bahwa Yesus ada dalam sebuah keluarga. Ia dikenal oleh keluarganya.

Kemarin saya menemukan slide bagus berisi kata-kata yang sama sekali tidak memotivasi dari Anthony Dio Martin—ia menyebutnya parodi motivasi. Tunggu, Anda tahu 'kan siapa dia? Google saja kalau tidak. Gampang.

Anthony Dio Martin bilang, "Ada orang yang begitu terkenal, sampai-sampai ia tidak dikenal oleh keluarganya sendiri".

Harap orang itu bukan Anda.

Masalah Orang Bertambah Usia

Senin, September 07, 2009

"Masalah orang beriman hanya satu: mereka takut mati sekalipun mereka percaya ada kehidupan setelah kematian".

Saya tidak ingat persis siapa yang mengatakannya. Dia benar. Tetapi sebagian saja. Karena ada yang tidak takut mati. Hanya belum mau mati dalam waktu dekat.

Salah satu yang belum mau mati dalam waktu dekat itu saya. Jadi saya luar biasa bersyukur ketika usia bertambah lagi. Tuhan masih memberi kesempatan. Syukurlah…

Sesaat setelah pertambahan usia itu, saya menyadari satu hal. Dan satu hal itu kalau dirumuskan dalam kalimat bisa juga menggunakan gaya kutipan di atas.

"Masalah orang bertambah usia hanya satu: ego mereka bertambah besar pula justru ketika mereka seharusnya lebih dewasa dan rendah hati".

Bagaimanapun juga, terima kasih Tuhan, saya memasuki usia 27 tahun. Banyak terima kasih juga untuk ucapan, salam, dukungan dan doa Anda. Plus kiriman Tiramisu yang enak. Saya jadi lebih yakin saya tidak berjalan sendiri.

Tuhan sungguh baik. Ia mengirim Anda ke dalam hidup saya.

Masalah Orang Bertambah Usia (2)

Sabar... Carilah Tuhan...

Sabtu, September 05, 2009

Menunggu itu menyebalkan.

Terutama jika menunggu orang yang tahu persis kita sangat membutuhkannya dan yang memanfaatkan betul pengetahuannya itu. Terutama lagi di siang bolong. Lebih terutama lagi, ketika perut sudah minta diisi.

Kecuali ada buku bagus di tangan, menunggu bisa menjadi pengalaman berahmat.

Pengalaman berahmat itu baru saja saya alami. Di tangan saya ada Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert.

"Carilah Tuhan. Carilah Tuhan seperti orang yang kepalanya berada di api yang mencari air" kata Elizabeth mengutip guru meditasinya.

Sejam kemudian, telepon genggam saya bergetar. "Kita ketemu hari senin saja ya karena …".

Arrrgggghhhhhh….

Sabar… Sabar…

Carilah Tuhan…