Loneliness

Minggu, Juli 10, 2011


"Let me tell you this: if you meet a loner, no matter what they tell you, it's not because they enjoy solitude. It's because they have tried to blend into the world before, and people continue to disappoint them" — Jodi Picoult (My Sister’s Keeper)

(Nagoya, Sakae, 09.07.2011)

Bon Odori

Sabtu, Juli 09, 2011

Dalam tradisi Gereja Katolik, setiap tanggal 2 November, ada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Sesuai dengan namanya, pada hari tersebut, kita diajak untuk mendoakan semua orang yang sudah meninggal dunia. Teristimewa sanak keluarga.

Ternyata di setiap musim panas, di Jepang, selalu diselenggarakan perayaan tradisional untuk menghormati arwah para leluhur.

Bon Odori namanya.

Perayaan Bon Odori ini kebanyakan diisi dengan tarian yang diriingi dengan musik tradisional Jepang yang bernuansa riang gembira.

Keluarga-keluarga akan berkumpul untuk mengenang dan menghormati arwah orang-orang yang mereka cintai yang sudah mendahului mereka.

Keluarga-keluarga berkumpul tetapi bukan di dalam rumah mereka masing-masing. Perayaan istimewa ini, yang diselengarakan di setiap kota di Jepang, mengambil tempat di taman umum atau tempat terbuka lainnya yang memungkinkan sebanyak mungkin orang/keluarga berkumpul.

Selain itu, penghormatan kepada leluhur ini harus dilakukan pada malam hari. Karena orang Jepang percaya, pada malam hari, arwah leluhur datang kembali. Dan arwah leluhur yang datang kembali itu harus disambut dengan penuh suka cita.

Semalam, di halaman rumah kami, ada Bon Odori yang ditutup dengan hanabi (kembang api).

Dalam Gereja Katolik, pun kebudayaan Jepang, orang yang sudah meninggal dunia tidak lantas berarti dilupakan begitu saja.

Mereka pernah menjadi bagian dari kita. Dan akan selalu menjadi bagian dari kita. Baik bagian hidup kita. Maupun bagian iman kita.

Hadiah dari Orang Tak Terduga

Kamis, Juli 07, 2011
“Ohayou…”.

“Aa… Aris-san, Ohayou…”.

“Ikaga desuka?”

“Gengki”.

“Atsui ne?”

“Ne…”.

Tiap pagi, di sekolah tempat saya kursus bahasa Jepang, saya dan seorang ibu yang bertugas di bagian cleaning service bertukar sapa. Tukar sapa kami standar saja: selamat pagi, bagaimana kabar, panas ya hari ini.

Biasanya, ketika saya tiba di sekolah beliau sedang mengepel lantai. Begitu saya menyapa, beliau akan berhenti lalu (sebagaimana lazimnya seorang Jepang) membungkuk sambil membalas sapaan saya. Dengan senyum lebar.

Beliau, di usia mungkin 50 atau 60 tahun, selalu kelihatan bahagia.

Setelah tegur sapa itu saya akan masuk kelas.

Senin, 04/07, setelah tegur sapa seperti biasa, beliau bertanya, “Aris-san, minggu lalu, tiga hari gak masuk sekolah ya?”.

Saya tersentuh.

“Chotto matte” lanjutnya. (Tunggu sebentar).

Beliau lalu meninggalkan pekerjaannya, masuk ke ‘kantornya’ (maksudnya gudang tempat alat-alat kebersihan tersimpan) lalu keluar lagi sambil memegang amplop coklat.

“Puresento” katanya, sambil menyerahkannya kepada saya.

Beliau tahu saya selalu mengendarai sepeda ke sekolah. Maka puresento (hadiah) dari beliau adalah secarik kain untuk mencegah keringat mengalir di leher.

Saya tidak bisa lebih tersentuh lagi.

Sekarang saya menduga-duga mengapa beliau selalu kelihatan bahagia: mungkin karena beliau suka membahagiakan orang lain.