Untuk Anda yang Sedang Sakit

Sabtu, Agustus 06, 2011

Seorang teman, yang sedang dirawat di Rumah Sakit, bercerita, “Senin sampai Jumat biasanya banyak perawat yang bertugas. Sabtu dan Minggu sedikit”.

Tau dari mana?

Mulai hari Senin sampai Jumat, katanya, di depan kamarnya bunyi sepatu para perawat yang sedang berjalan ke sana kemari ramai terdengar.

Di hari Sabtu dan Minggu bunyi ketukan sepatu berkurang.

Tau dari mana itu bunyi sepatu perawat, bukan pengunjung?

Dia hanya mengangkat bahu.

Selalu ada yang bisa dikerjakan sekalipun Anda sedang terbaring sakit.

Konon katanya, semakin dipikirkan semakin sakit badan jadinya.

Kreatiflah. Pikirkan dan kerjakan sesuatu.

Semoga akhir pekan Anda tidak membosankan.

Cerita Tentang Orang Tua dan Bayi di Jepang (2)

Tentu saja, selain melihat orang tua di mana-mana, saya juga melihat bayi. Juga di mana-mana.

Taman umum.

Mall.

Restoran.

Gereja.

Dalam angkutan umum.

Dalam mobil pribadi.

Di mana-mana.

Berbeda dengan kebanyakan pemandangan di Jakarta, selama 8 bulan di sini saya belum pernah melihat seorang bayi yang sedang digendong babysitter.

Atau seorang ibu muda yang sedang melenggang cantik di mall diiringi anak dan babysitter.

Yang selalu terlihat adalah ibu muda (adakalanya bersama dengan pasangannya) mendorong sendiri bayi dalam kereta dorong. Atau menggendongnya dengan gendongan khusus semacam backpack (atau apalah itu namanya). Selain bayi, masih ada tas dalam ukuran yang lumayan besar yang biasanya ditenteng. Mungkin isinya popok baru atau bisa apa saja (mana saya tahu?).

Tentu saja, repot kelihatannya.

Tetapi di negara yang sedang menghadapi problem usia lanjut, menggendong bayi itu sama dengan menggendong masa depan.

Mendorong kereta bayi itu sama dengan mendorong masa depan Jepang.

Dan di negara sekular ini (yang dokumen resminya tidak mengharuskan pencantuman agama dan tidak ada hari libur nasional yang berbau agama apapun), saya dengan bangga ingin mengatakan: Tuhan mengingingkan kehidupan di jepang terus berlanjut.

Bayi-bayi itu adalah tandanya.

Cerita Tentang Orang Tua dan Bayi di Jepang

November tahun lalu, majalah mingguan The Economist, melaporkan masalah terbesar yg sedang dihadapi oleh Jepang: ledakan jumlah penduduk berusia lanjut (ageing problem).

Ada data akurat melengkapi laporan itu yang menunjukkan jumlah penduduk usia lanjut lebih mendominasi populasi. Sementara angka kelahiran baru tidak menggembirakan.

Saya masih di Jakarta ketika membaca laporan itu.

"Paling tidak, jumlah penduduk usia muda akan bertambah satu begitu saya ada di sana" adalah reaksi pertama.

Reaksi kedua, "Saya hidup di dunia yang terbalik-balik. Di Indonesia, kita pusing karena banyak anak lahir. Di belahan dunia lain, orang pusing karena anak yang lahir kurang".

Sekarang, setelah 8 bulan hidup di Jepang, saya masih belum tahu entahkah kehadiran saya diperhitungkan sebagai penambahan pada angka penduduk usia muda.

Yang pasti, saya melihat orang tua di mana-mana.

Satpam-satpam.

Para penyapu jalan.

Supir-supir taksi (yang selalu rapih dengan setelan jas dan dasi dan sarung tangan putih).

Petugas cleaning service.

Petugas parkir.

Kebanyakan mereka berusia 60-an tahun.

Jika profesi-profesi yang mengharuskan stamina ini malah diisi oleh mereka yang staminanya mulai menurun, ada sesuatu yang salah.

Atau mungkin seperti kata penulis Betty Friedan 'Aging is not lost youth but a new stage of opportunity and strength'.

Mengapa tidak?