Pohon Nangka Kami

Rabu, Mei 06, 2009

Saya tidak tahu persis umurnya berapa. Siapa yang menanamnya. Apakah memang sengaja ditanam. Atau tumbuh dengan inisatif sendiri. Yang pasti pohon nangka ini tidak henti-hentinya berbuah. Tak henti-hentinya seperti kata pepatah mati satu tumbuh seribu.

Ia berdiri tegak di ujung tempat tinggal kami. Di depan deretan kamar mandi.

Dua hal tentang nangka ini.

Pertama, hal istimewa. Kerimbunan daunnya sungguh-sungguh menjadi penolong bagi kami ketika panas matahari menyengat di siang hari.

Kedua, hal menyebalkan. Ketika tiba masanya, buahnya demikian ranum, masak lengkap dengan aroma yang sangat menggoda. Sempurna, pokoknya. Hanya saja kami tidak pernah bisa (dan belum pernah) menikmatinya. Biar secuilpun. Buah-buahnya membusuk persis sebelum kami bisa menikmatinya dan jatuh begitu saja (sesekali menimpa atap kamar mandi atau kamar frater-frater). Sudah busuk, merusak atap pula. Menyebalkan. Banyak cara sudah kami lakukan tetapi sejauh ini tidak ada yang berhasil. Kadang-kadang kami merasa pohon nangka ini menertawakan usaha kami.

Akhir-akhir ini kami mulai tergoda untuk berpikir apakah tidak lebih baik jika ditebang saja. Alasannya, "Untuk apa memeliharanya jika buahnya tidak bisa kita nikmati?". Daun-daunnya yang berguguran juga cukup merepotkan kami tiap pagi.

Kalau dipikir-pikir kasus pohon nangka kami ini sama seperti kue terenak sedunia yang dikeluarkan dari oven hanya untuk dibuang ke tempat sampah. Sayang sekali.

Kalau dipikir-pikir lebih dalam lagi, kasus pohon nangka kami ini sama seperti kita yang punya bakat dan potensi tetapi tidak pernah dikembangkan sehingga tidak pernah menghasilkan sesuatu yang baik untuk banyak orang.

Bakat, cek.

Potensi, cek.

Kemampuan, cek.

Keterampilan, cek.

Sumber daya, cek.

Tapi membusuk dalam diri sendiri.

Saat menulis ini, saya bertanya-tanya kepada diri sendiri: jika saya tidak berkembang sesuai potensi saya, berapa banyak orang akan tergoda untuk berpikir, "Untuk apa memeliharanya jika buahnya tidak bisa kita nikmati?"

Untuk apa kita diciptakan?


Karena Kita Bukan Nangka

Remember Our Saints: St. Atanasius, St. Filipus dan St. Yakobus

Senin, Mei 04, 2009

Dua hari yang lalu, tanggal 02 Mei, Gereja memperingati Santo Atanasius, seorang Uskup dan pujangga Gereja. Siapakah dia?

Atanasius lahir di kota Alexandria pada tahun 295. Ia menemani uskupnya ke Konsili Nicea di mana dinyatakan bahwa Kristus sungguh Allah. Tahun 328 Atanasius menjadi uskup Alexandria, lalu memimpin keuskupan itu selama empat puluh lima tahun. Dengan tegas ia melawan ajaran Arius yang mengatakan bahwa Kristus bukan Allah. Karena itu Atanasius sampai lima kali terpaksa melarikan diri dari kota keuskupannya. Ia menulis banyak untuk menerangkan dan membela iman yang benar. Tahun 363 ia meninggal dunia di Alexandria.

Dewasa ini kita menghadapi soal yang sama beratnya. Bukan saja Kristus tidak diakui sebagai Allah, tetapi orang seringkali hidup seolah-olah tidak ada Allah sama sekali. Semoga iman kita kepada Kristus tetap utuh dan berpengaruh dalam hidup kita.

Kemarin, tanggal 03 Mei, Gereja memperingati Santo Filipus dan Yakobus, keduanya adalah rasul.

Filipus, seorang murid Yohanes Pembaptis, lahir di Betsaida di Galilea. Ia kemudian mengikuti Kristus, dan dipilih menjadi satu dari kedua belas rasul. Pada perjamuan malam terakhir Filipus minta kepada Yesus, "Tuan tunjukkanlah Bapa kepada kami, maka kami akan merasa puas". Yesus menjawab, "Filipus, orang yang melihat Aku, sudah melihat Bapa".

Rasul Yakobus, saudara sepupu Yesus, dan anak Alfeus. Ia memimpin umat di Yerusalem dan membawa banyak orang Yahudi kepada iman akan Kristus. Dalam suratnya ia mengajak kita agar iman kita nyata dalam tingkah laku. Yakobus mati sebagai martir tahun 62.

Filipus dan Yakobus percaya kepada Kristus dan mengikuti Dia. Marilah kitapun sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, dan menyatakan iman itu dalam tingkah laku kita.

(Dari: Anggota keluarga Allah, 1974)