Sama Pengalaman, So What?

Senin, Desember 01, 2008 2 komentar

"Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Bla-bla-bla"

Kadang-kadang begitu kalimat pertama yang meluncur bebas dari mulut saya menanggapi curhat seorang teman.

Selanjutnya jelas, saya bisa bercerita panjang lebar tentang apa yang saya alami yang saya sebut "sama" itu. Atau saya tidak bercerita tentang pengalaman yang sama itu tetapi langsung ke "waktu itu saya gini-gini-gini". Maksud tak terucap dari cerita-cerita itu adalah "coba deh jalan keluar ini. Berhasil loh untuk saya".

Biasanya sampai di situ sesi curhat berakhir. Saya anggap nasehat saya ditangkap dengan baik. Saya mampu memecahkan masalahnya. Topik pembicaraan berpindah.

Belakangan ini saya sadar anggapan saya itu selama ini keliru 120 %: tidak ada masalah yang terpecahkan. Sesi curhat itu memang berakhir tetapi tidak menyelesaikan apa-apa.

Dari mana kesadaran ini muncul? Pengalaman pribadi.

Suatu kali, belum lama ini, saya menceritakan pengalaman yang benar-benar tidak mengenakan kepada seorang teman. Tebak ia memulai tanggapannya dengan kalimat apa? Anda benar.

Saya langsung ilfil.

"Erggggg, saya hanya ingin didengarkan".

"Situ emang pernah mengalami hal yang sama, so what? Tetap saja ada bedanya," begitu batin saya.

Sesi curhat kami berakhir. Pada saat yang sama, terbitlah rasa puas di wajahnya karena merasa bisa menyelesakan masalah saya.

Saya pernah baca di sebuah edisi majalah Reader's Digest kalimat ini, "Kita tidak selalu mengharapkan diberi jawaban atau nasehat. Kadang-kadang yang kita butuhkan hanyalah seorang teman".

Setuju banget. 200 %.

Demi Iman: Kita Belajar Apa dari Mereka?

0 komentar

Remember Our Saints: Beato Dionisius dan Redemptus

0 komentar

Hari ini, tanggal 01 Desember, Gereja memperingati martir Dionisius dan Redemptus. Siapakah mereka dan apa yang telah dilakukannya? Sedikit bocoran awal: mereka wafat sebagai martir di Negara kita.

Dionisius lahir tahun 1600 di Honfleur, sebuah kota di pantai utara Perancis. Ayahnya nahkoda, maka tidak heran bahwa Dionisius menjadi pelaut. Pada umur dua puluh tahun ia ikut berlayar ke Indonesia, di mana ia bekerja selama lima tahun sebagai penggambar peta dan jurumudi. Akhirnya ia pindah ke Goa, dan menjadi kapten armada Portugis. Pada umur 35 tahun ia memutuskan menjadi imam, dan masuk biara Karmel di goa.

Redemptus lahir sekitar tahun 1598 di Paredes, sebuah desa kecil di Portugal. Ia masuk tentara dan diutus ke daerah jajahan Portugis. Akhirnya ia ditempatkan di Goa. Redemptus lalu berubah haluan dan menjadi bruder Karmelit.

Pada tahun 1638, orang Portugis mengirim utusan ke Aceh. Atas permintaan kepala rombongan, Dionisius ikut sebagai pastor tentara dan jurubahasa. Ia ditemani Redemptus. Sesampai di Aceh mereka ditangkap dan dipenjara. Pada tanggal 29 November 1638, mereka mati sebagai martir.

Usaha Dionisius dan Redemptus untuk mewartakan Injil di tanah kita nampaknya gagal sama sekali. Tetapi bukankah biji gandum harus mati supaya dapat berbuah? Apakah kita mau berusaha demi Kristus, juga kalau hasilnya tak nampak?

(Dari: Anggota Keluarga Allah, Kanisius, 1974)