Orang tua Tunggal (Sementara Waktu)

Jumat, September 02, 2011

Bagaimana rasanya mengurus anak-anak seorang diri tanpa istri selama sebulan penuh?

Saya tidak mungkin menjawab pertanyaan ini. Saya jelas tidak kompeten.

Dan saya tidak akan mungkin menulis kalimat pembuka itu jika tidak ada yang menceritakan pengalamannya kepada saya.

“Ternyata jadi istri dan mamanya anak-anak itu ‘gak gampang, frater” kata teman saya yang ditinggal istrinya untuk keperluan penting selama sebulan penuh. Putra dan putri mereka belum lagi 10 tahun usianya.

“Oooo, pasti” seolah-seolah saya pernah mengalaminya.

“Contoh kecil, frater. Mau masak apa untuk anak-anak hari ini aja saya udah pusing mikirnya. Padahal ini sebulan penuh”.

Syukurlah, dia bisa memasak.

Karena itu sekalipun pusing, selalu ada sesuatu yang dihidangkan untuk anak-anaknya. Hasil olahannya sendiri.

Sehari setelah percakapan pendek itu, saya bertemu lagi dengan teman saya ini.

“Gimana anak-anak?”

“Skarang ada tantenya, jadi aman. Tapi tantenya cuma dua hari di rumah”.

Chris Rock, komedian dan bintang film favorit saya pernah bilang, “You can DO it but that don’t mean it’s to be DONE”.

Makanan bisa dimasak.

Tapi kehadiran tak tergantikan.

Perut anak-anak kenyang.

Tapi tanpa kehadiran ibu, ada sesuatu yang kosong.

Pasti berat jadi orang tua tunggal (single parent).

Semoga Tuhan menganugerahkan kepada Anda rahmat yang Anda butuhkan.


Thank You For Loving Me

Kamis, September 01, 2011

Di dekat biara yang saya tinggali ini, ada taman umum yang luas, indah, hijau dan (karena ini di Jepang) bersih.

Karena luasnya, ada sebidang tanah kosong yang disisihkan sebagai lapangan baseball.

Setiap malam selalu ada kelompok-kelompok yang bermain baseball di situ.

Jika sedang suntuk, saya suka pergi ke taman ini untuk menonton pertandingan yang belum saya mengerti ini.

Setiap kali saya melihat orang tua itu dan anjingnya.

Malam itu, saya beruntung bisa merekam momen istimewa ini.



Drama, Drama, Drama


Saya gak suka denger dan paling sebel ama orang yang ngeluh terus tentang hidupnya. Kayak masalah dia yang paling berat. Padahal saya juga punya masalah sendiri”.

Teman saya mengatakan itu kepada saya baru-baru ini.

Tapi ya mau gimana lagi, kalo pas ada di situ ya dengerin aja”.

Setiap orang punya masalah.

Ada yang sungguh-sungguh berat. Ada yang sungguh-sungguh ringan belaka.

Dan, tidak peduli kadarnya ringan atau berat, ada masanya setiap orang mendramatisir masalahnya.

Setiap orang! Baik orang yang udah dari sononya memang suka drama. Maupun orang tidak suka drama.

Ada masanya (baca: tidak setiap waktu), kita melebih-lebihkan masalah yang sedang kita hadapi.

Masalah ringan jadi berat.

Masalah berat jadi tambah berat.

Masalah sangat berat jadi tambah ruwet.

Kepada siapa kita mendramatisir masalah?

Pertama, kepada diri sendiri.

Kedua, kepada orang lain yang mendengar cerita kita.

Bagian yang agak rumit adalah kapan kita mengetahui kita sedang mendramatisir hidup kita?

Mungkin ini: jika kita marah, kesal atau tidak suka kepada orang yang menganggap masalah yang sedang kita hadapi tidak serumit yang kita bayangkan.

p.s: Saya melihat dua pria ini: yang satu dalam setelan rapi hendak berangkat ke kantor (29/08), yang satunya lagi sedang menikmati musik jalanan (27/08). Mereka melakukannya dari atas kursi roda. Mereka melakukannya sendiri! Mereka seolah-olah ingin mengatakan hidup ini harus terus berlanjut, dengan atau tanpa drama.