Tiga Tentang Arti Hidup

Jumat, Januari 29, 2010

Ini cerita dari pelayanan saya membawakan komuni kudus kepada orang tua dan orang sakit yang (sudah) tidak bisa (lagi) ke Gereja pada hari Minggu. Ada 17 orang yang biasanya saya layani.

Kali ini saya hanya akan menampilkan 3 saja dari antara mereka.

Tanyakanlah kepada ketiga orang ini, apa artinya hidup untuk mereka. Dan inilah jawabannya (dengan dialek Manado yang kental).

Pertama. Seorang opa yang pada 4 Februari nanti genap berusia 74 tahun. "Kita pernah dengar orang pande bilang, 'Hidop ini kebanyakan nda beruntung'. Maksudnya, supaya torang jadi lebe sabar. Kita stuju. Co frater liat jo frater pe hidop". (Saya pernah dengar orang pandai bilang, 'Hidup kita isinya kebanyakan ketidakberuntungan'. Maksudnya supaya kita menjadi lebih sabar. Saya setuju dengan pendapat orang pandai itu. Lihat saja hidup frater).

Bagi opa yang selama 40 tahun akrab dengan diabetes itu, hidup adalah tentang belajar menjadi sabar. Kesabaran, kualitas yang membuat hidup ini cukup berharga untuk dijalani dan dinikmati.

Dan rasanya ia pelajar yang baik. Ketika mengatakan kalimat di atas, senyum lebar tersungging di bibirnya. Teduh. Menyejukkan. Seolah-olah diabetes selama 40 tahun—dengan diet dan pantang ini dan itu yang menyebalkan itu—hanyalah ketidakberuntungan kecil seperti kehilangan dua ribu perak di antara lembaran lima puluh ribuan.

Kedua. Seorang opa, lagi. Hanya jauh lebih tua sepuluh tahun.

Ketika mengantar komuni kepadanya tiga minggu yang lalu, ia bertanya, "Oma ada berdoa pa kita di surga lei to?" (Oma juga berdoa untuk saya di surga kan ya?).

Tatapan matanya menerawang. Jauh.

Untuk opa yang baru saja ditinggalkan istrinya yang telah dinikahinya selama 56 tahun, hidup adalah tentang rindu yang tak tertahankan; tentang kehilangan yang tak tergantikan; tentang cinta yang tak berakhir sekalipun maut sudah memisahkan; tentang setia sampai maut mempertemukan kembali dirinya dengan istrinya; tentang kesendirian dan kesepian di usia senja.

Ketiga. Seorang pria muda perantau dari Flores berusia 22 tahun. Ia selamat dari kecelakaan tragis sepulang dari tempat kerja. Selamat nyawanya tetapi tidak kedua kakinya. Tulang paha kiri dan kanannya patah. Yang bisa ia lakukan hanyalah tidur dan duduk di atas tempat tidurnya.

Ketika saya mengantar komuni kepadanya pada kali yang ketiga, ia berkata mantap, "Tuhan masih mencintai saya".

Baginya, hidup adalah tentang bersyukur atas campur tangan Tuhan; tentang percaya pada kasih-Nya. Bahkan ketika dalam keadaan menderita; ketika masa depan masih gelap sama sekali. "Tuhan punya cara untuk memelihara saya" katanya lagi. Hidup adalah juga tentang memelihara harapan bahwa Tuhan-lah yang mengatur masa depan.

Sekarang, apa arti hidup yang sementara Anda jalani?

Ayat Favorit Hari Ini



“Kekayaan yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut” (Ams. 10:2)

80 % Saja Cukup

Saya sedang membaca sebuah buku baru dari penulis favorit saya, John C. Maxwell. Talent is Never Enough. Buku yang sangat menarik. Seperti biasa. Dan sangat inspiratif, tentu saja, sampai-sampai saya tidak tahan untuk tidak membaginya kepada Anda. Ini salah satu bagiannya:

Benjamin Franklin, salah seorang Bapak Pendiri negara Amerika, menasehati, "Untuk berhasil, melompatlah sesegera mungkin dalam setiap kesempatan seperti yang Anda lakukan pada saat akhir". Orang-orang yang mengambil inisiatif dan bekerja keras mungkin berhasil atau mungkin gagal. Tetapi siapa pun yang tidak mengambil inisiatif hampir bisa dijamin akan gagal. Saya mempunyai keyakinan bahwa Anda mempunyai…

suatu keputusan yang seharusnya Anda buat,

suatu masalah yang seharusnya Anda selesaikan,

suatu kemungkinan yang seharusnya Anda periksa,

suatu proyek yang seharusnya Anda mulai,

suatu sasaran yang seharusnya Anda capai,

suatu kesempatan yang seharusnya Anda tangkap,

suatu impian yang seharusnya Anda penuhi.

Tak seorang pun bisa menunggu sampai segala sesuatu sempurna untuk bertindak dan mengharapkan untuk berhasil. Lebih baik bersikap 80 % yakin dan mewujudkan segala sesuatu dibanding menunggu sampai Anda 100 % yakin. Karena pada saat itu kesempatan akan sudah melewati Anda. (Talent is Never Enough, hlm. 59).

Ayo, ambil inisiatif.

Mulailah.