Pemazmur dan Oma 86 Tahun

Jumat, Februari 12, 2010

"De pe rahasia apa, oma?" (Rahasianya apa, oma?)

Itu pertanyaan saya pada seorang ibu berusia 86 tahun, setelah "Oma pe umur berapa kote skarang?" (Berapa umurnya sekarang?)

Entah mengapa, akhir-akhir ini, saya suka mengajukan dua pertanyaan ini pada orang-orang tua yang saya jumpai yang sudah menginjak dan melewati 70 tahun.

Pemazmur bilang masa hidup kita sampai tujuh puluh tahun. Delapan puluh jika kuat (Mzm. 90:10). Nah, apa yang dibutuhkan untuk sampai ke sana?

"Sabar" jawab sang oma.

"Musti banyak sabar" katanya lagi.

Saya menggaruk kepala mendengar jawaban itu.

P.S: Selamat menyambut Imlek dengan penuh suka cita. Doa saya untuk Anda, semoga diberi banyak berkat di tahun baru ini… dan semakin sabar. Gong xi fa cai.

"Kalau Bisa, Lebih Baik Lagi"

Selasa, Februari 09, 2010

"Karena itu, berjaga-jagalah, karena kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya" (Mat. 25:13)

Ayat di atas saya kutip dari kisah lima gadis bodoh yang membawa pelita tanpa minyak cadangan dan lima gadis bijaksana yang membawa pelita lengkap dengan minyak cadangan (Mat. 25:1-13).

Saya mengandaikan Anda pernah membacanya. Atau Anda pernah mendengarnya. Dan karena itu Anda masih ingat kisah itu—kalau tidak, Anda tidak perlu malu membuka Kitab Suci.

Pelajaran pertama dari kisah (taruhlah) kebijaksanaan versus kebodohan itu adalah persiapan, persiapan dan persiapan (atau dalam bahasa Injil, berjaga-jagalah)

Penulis favorit saya, John C. Maxwell, mengatakan hal yang indah dan mencerahkan tentang hal persiapan ini.

Persiapan tidak dimulai dengan apa yang Anda lakukan. Persiapan dimulai dengan apa yang Anda percayai.

Seorang teman pernah bertanya, tentang bagaimana caranya ia bisa memenangkan kembali hati pacarnya. Benar, hubungannya dengan pacarnya sedang bermasalah.

"Kenapa dia layak diperjuangankan?"

"Semenjak pacaran ama dia, nilai-nilai ujian saya naik" adalah alasannya yang sekaligus menjadi faktor pembeda dengan sembilan mantan cowoknya. Selain tentu saja, ia mencintainya setengah mati. Sudahkah saya mengatakan teman saya ini siswi SMP kelas III?

"Pacar kamu masih sayang gak ama kamu?"

Ia menganggukkan kepala, yakin.

"Kamu yakin hubungan kalian bisa kembali seperti dulu"

Ia mengangguk lagi kali ini. "Kalau bisa, lebih baik lagi," katanya.

Karena apa yang dipercayai dan diyakininya ini, ia ingin melakukan banyak hal untuk pacarnya itu dengan cara yang berbeda: lebih pengertian, lebih sabar, lebih terus terang, bla-bla-bla.

Persiapan (atau berjaga-jaga) tidak lagi seperti belajar semalam suntuk untuk ujian besok. Atau bikin presentasi yang menarik sebelum dipresentasikan di kantor. Atau ikut kursus bahasa Inggris untuk melayani klien dari luar negeri. Atau memperbaiki penampilan demi menciptakan kesan profesional. Dan seterusnya.

Persiapan (atau berjaga-jaga) dapat diperluas maknanya dan diterapkan untuk berbagai macam hal yang kita hadapi setiap hari.

Apa yang Anda percayai menentukkan apa yang Anda lakukan.

Pelajaran kedua dari kisah kebijaksanaan versus kebodohan itu adalah tanpa persiapan, Anda hanya akan tiba di depan gerbang untuk menemukan bahwa gerbang itu sudah tertutup rapat untuk Anda. Persis seperti lima gadis bodoh itu. Dengan persiapan, Anda akan tiba di depan gerbang untuk menemukan bahwa gerbang itu terbuka lebar untuk Anda dan Anda dipersilahkan masuk.

Gerbang itu bisa jadi kesempatan. Gerbang itu bisa jadi kesuksesan. Gerbang itu bisa jadi kebahagiaan. Gerbang itu bisa jadi surga.

Apa yang Anda percayai menentukkan apa yang Anda lakukan.

Dari Belanda Tentang Iman

Sabtu, Februari 06, 2010

Sekali peristiwa, Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka berdua-dua … dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat; roti pun tidak boleh dibawa, demikian pula bekal dan uang dalam ikat pinggang; mereka boleh memakai alas kaki, tetapi tidak boleh memakai dua baju. (Mrk. 6:7-9)

Dosen saya pernah bercerita tentang masa kecilnya bersama adiknya di negeri Belanda sana.

Katanya, pernah suatu pagi adiknya, yang baru berusia lima tahun, dengan kenakalan khas anak-anak memanjat meja makan di rumah mereka dan dengan bangga berdiri di atasnya. Secara tak terduga, sang adik mengatakan bahwa ia akan melompat ke pangkuan papanya yang sedang duduk agak jauh (tetapi masih bisa dijangkau dengan satu lompatan anak-anak) sambil membaca koran.

Papanya yang mendengarnya langsung menurunkan korannya.

Bocah lelaki lima tahun itu tidak sedang bercanda.

Tanpa ragu-ragu sedikitpun ia melompat. Ia tidak takut. Ia Benar-benar melompat ke dalam pelukan papanya yang sudah bersiap-siap pula menangkapnya.

Berhasil.

Bocah berani itu tertawa dalam pelukan papanya yang hangat.

"Itulah iman" kata dosen saya. Adiknya percaya bahwa papanya tidak akan membiarkannya terjatuh. Ia akan menangkapnya dan membawanya dalam pelukannya. Dan memang benar demikian: ia menerima apa yang dipercayainya.

Baca kembali pesan Yesus kepada para murid di atas. Bandingkan dengan kisah dosen saya.

Sudah dapat?

Kalau belum, maksudnya ini: Yesus mengharap iman dari pada murid-Nya. Yesus mengharap para murid-Nya percaya bahwa Ia akan memelihara mereka sepanjang perjalanan.

Saudara-saudara, Tuhan punya cara memelihara hidup kita masing-masing. Tuhan itu baik.

Jangan khawatir. Milikilah iman.

P.S: Selamat bersenang-senang di akhir pekan ini ya. Jangan khawatir. Tuhan punya cara. Selalu begitu.