Empat Hari Tanpa Tangan Kanan

Rabu, Mei 13, 2009

Setumpuk pakaian ternyata bisa melumpuhkan hidup.

?????????

Hari sabtu yang baru saja berlalu, saya terbangun pukul 05.10 hanya untuk mendapati pergelangan tangan kanan saya tak bisa digerakkan sama sekali. Dan sakit minta ampun.

"Ok, mungkin saya menindihnya sewaktu terlelap sehingga peredaran darah tidak lancar". Pikiran pertama menghinggapi.

Karena itu saya melakukan aktivitas seperti biasa. Berharap darah akan beredar seperti sedia kala.

Ternyata pikiran pertama itu salah besar. Ini bukan soal posisi tidur dan peredaran darah.

Sore harinya saya tidak bisa lagi memanfaatkan tangan kanan saya. Padahal aktivitas apa yang biasanya dilakukan dengan tangan kanan? Hampir semuanya!

Maka sampai sebelum saya menulis artikel ini, hidup saya lumpuh. Ok, mungkin terlalu didramatisir, hehehe. Persisnya, saya kerepotan setengah mati. Mandi, sikat gigi dan berganti pakaian yang biasanya dilakukan dengan enteng ternyata bisa sangat menyiksa. Itu baru tiga pekerjaan rutin.

"Frater, ba apa kemarin?" tanya ibu tukang pijat langganan para frater. (Frater, ngapain aja hari jumat itu?)

"Sore-sore kita ba cuci pakaian satu loyang basar" (Saya mencuci pakaian satu loyan gede sore harinya).

"Itu no frater. Waktu frater ramas tu pakaian pe banyak urat kecil pergelangan tangan kana". (Itulah sebabnya frater. Sewaktu meremas cucian yang banyak itu, urat nadi kecil di pergelangan tangan keseleo).

"Mar lantaran dingin jadi blum dapa rasa, nanti bangun pagi no baru dapa rasa". (Tapi karena dingin jadi sakitnya baru terasa ketika bangun bangun pagi).

Setelah empat hari tanpa tangan kanan, akhirnya hari ini hidup saya kembali normal. Syukur kepada Allah.

Pelajarannya sederhana saja. Karena menunda, pakaian setumpuk/seloyang melumpuhkan hidup saya. Coba kalau dicicil, ceritanya akan lain. Jadi pelajarannya adalah jangan (lagi) menunda melakukan sesuatu karena sesuatu itu bisa berbuah malapetaka.

Apakah Anda terbiasa menunda-menunda melakukan sesuatu? Mulai berhati-hati, saudaraku. Masa depan siapa yang tahu, kata orang.

Pelajaran lain. Saya baru sadar ternyata saya tidak memiliki rencana B untuk hidup saya. Sama sekali. Hidup saya mengalir, tenang, banyak kali otomatis. Rencana B dalam kasus saya adalah melatih tangan kiri untuk menangani pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh tangan kanan. Karena tidak punya rencana B, maka begitu tangan kanan saya lumpuh, jalannya hidup saya benar-benar terganggu.

Apakah Anda memiliki rencana B dalam hidup?

Mulailah memikirkannya, kalau belum. Suatu waktu Anda pasti membutuhkannya. Dan ketika waktu itu tiba Anda sudah siap.

Setelah empat hari tanpa tangan kanan, di pojok kamar saya pakaian kotor kelihatan mulai menumpuk lagi.

"Sialan".

Ya, ya, ya, hidup berjalan terus. Dengan atau tanpa tangan kanan.


Ayat Favorit Hari Ini

"Tebak Frat, Mirip Siapa?"

Jumat, Mei 08, 2009

Saya sering, karena sengaja atau tidak sengaja, berada di antara kumpulan orang dan terlibat dalam pembicaraan. Pembicaraan itu macam-macam sifat dan tujuannya. Mulai dari rapat resmi (akhir-akhir ini bisa mencapai pukul 02.00 dini hari) sampai ngobrol ngalor-ngidul dengan topik yang jelas atau tidak jelas (sekedar berhaha-hihi).

Di antara sekian banyak kumpulan orang lengkap dengan model pembicaraannya, salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah berada (lebih banyak karena terjebak) di antara ibu-ibu yang berbagi cerita tentang buah hatinya. Lebih khusus lagi kalau ibu-ibu itu tergolong muda yang bayinya masih balita. Dan balita itu anaknya yang pertama.

Seru.

Mereka menarik perhatian saya dan membahagiakan saya.

Yang menarik perhatian saya adalah mendengar cara ibu-ibu ini bercerita tentang pola tingkah bayinya. Ada sesuatu yang khas dalam nada suaranya: ada kebahagiaan terang-terangan; ada kebanggaan yang tak bisa ditutup-tutupi dan ada perasaan berbunga-bunga yang meluap-luap. Tapi juga ada kecemasan tak tertahankan jika sesuatu yang salah terjadi pada bayinya.

Kandungan khas itu amat berbeda ketika mereka beralih topik: kenaikan gajinya atau gaji suaminya, berhasil membeli tas impian, suaminya menyukai masakannya atau caranya berdandan dan merawat diri. Ada kebahagiaan dalam nada suaranya tapi tak lagi sedalam yang di atas.

Dari kelompok ibu-ibu muda ini saya jadi yakin kalau di dunia ini ada tingkatan-tingkatan kebahagiaan.

Satu hal mengenai kelompok ibu muda ini: kalau sudah bercerita tentang bayinya, Anda akan susah menebak di mana ujung percakapan itu. Persis seperti menelusuri sungai penuh air yang terus mengalir entah ke mana.

Tapi itulah bagian yang paling membahagiakan saya. Orang hanya bisa berbicara banyak hal tentang seseorang jika ia memperhatikannya, bukan?

Bayi-bayi itu berada di tangan yang tepat yang mencukupinya dengan limpahan perhatian dan cinta. Tuhan mengirim mereka ke malaikat pelindung yang tepat.

Beberapa waktu lalu dua orang teman saya (ibu-ibu muda) mengirimi saya foto-foto buah hatinya. Yang satu dengan pesan, "Tebak frat, mirip siapa?". Yang lainnya, "Just to keep you update".

Itu hanyalah sepucuk foto dan sebaris pesan. Tapi entah bagaimana saya bisa merasakan kebahagiaan tak terkira di dalamnya.

Maka saya membalas pesan salah satu dari mereka, "You guys must be so happy".