Berdoa Supaya Jangan Menangis

Kamis, Desember 04, 2008 0 komentar

Suatu ketika ada seorang anak, Johan namanya, sedang mengikuti sebuah lomba balap mobil mainan. Suasana siang itu sungguh meriah karena hari itu adalah final. Hanya tersisa 4 orang dan semuanya sedang memamerkan mobil buatannya sendiri. Memang begitulah aturan perlombaan: harus mobil buatan sendiri.

Mobil Johan tak istimewa di bandingkan 3 peserta lainnya. Karena itu beberapa orang meragukan apakah mobilnya bisa bersaing dengan yang lainnya. Namun bangga dengan mobilnya karena buatannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan: final kejuaraan mobil balap mainan dimulai. Setiap anak mulai bersiap di garis start untuk mendorong mobil mereka masing-masing sekencang-kencangnya. Di setiap jalur lintasan telah siap empat mobil dengan empat "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan empat jalur terpisah.

Namun sesaat kemudian Johan meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Mulutnya tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Semenit kemudian ia berkata, "ya, aku sudah siap".

Dor… Dengan satu hentakan kuat mereka mendorong mobil mereka masing-masing. Mobil-mobil itu melaju cepat di lintasannya masing-masing. Semua orang yang hadir berteriak menyoraki mobil jagoannya. Ini final dan pemenang harus ditentukan. Tali lintasan finish pun terlambai. Dan, tanpa diduga-duga sebelumnya, mobil Johan mencapai garis finish terlebih dahulu. Johan keluar sebagai pemenangnya.

Saat pembagian piala tiba, Johan tampil ke depan dengan bangga. Sebelum menyerahkan piala ketua panita bertanya kepadanya, "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan supaya kamu menang, bukan?" Johan terdiam. ":Bukan pak. Bukan itu yang saya panjatkan."

Ketua panitia dan semua yang hadir mengernyitkan dahi. Johan melanjutkan, "Sepertinya tidak adil meminta Tuhan untuk menolong saya mengalahkan yang lain. Saya hanya mohon pada Tuhan supaya saya tidak menangis kalau kalah".

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Beberapa saat kemudian bunyi tepuk tangan yang bergemuruh terdengar.

Nah, saudara-saudariku, supaya masuk surga, simak kata-kata Yesus pagi ini, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: 'Tuhan, Tuhan' akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga" (Mat. 7:21). Dan "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu" (Mat 7:24). Kehendak Bapa yang dimaksudkan Yesus jelas: mencintai Allah dan mencintai sesama seperti diri sendiri.

Maka tidak perlu susah berpikir: mana yang lebih penting, doa dulu atau tindakan dulu? Karena bahkan dalam doa pun Anda bisa melakukan tindakan cinta kepada sesama. Itu pesan dari cerita yang Anda baca di atas. Jangan hanya memikirkan kepentingan sendiri ketika berdoa. Ada kecenderungan, kita rajin berdoa tetapi hanya untuk memohon prestasi kita, kesehatan kita, kesuksesan usaha dan karir kita, kerukunan keluarga kita, masa depan anak-anak kita.

Kita, kita, kita dan kita lagi; semuanya tentang kita.

Egois amat.

Cobalah seperti Johan. Kalau belum bisa selalu, yaaa sekali-sekali juga oke. Paling tidak, pernah sekali dalam hidup.  

Suara Jangkrik atau Uang Logam

Rabu, Desember 03, 2008 1 komentar

Suatu hari seorang desa mengunjungi temannya di kota. Bunyi ribut mobil-mobil dan suara orang lalu lalang sangat menganggu orang desa itu. Pada suatu hari kedua orang itu sedang berjalan-jalan ketika tiba-tiba orang desa itu menepuk bahu temannya dan berbisik, "Berhentilah sebentar. Apakah kamu mendengar suara yang kudengar?"

Teman kota itu menoleh kepada orang desa itu dan sambil tersenyum berkata, "Yang saya dengar hanyalah suara klakson mobil dan suara orang yang lalu lalang. Apa yang kamu dengar?"

"Ada seekor jangkrik di sini dan saya bisa mendengar suara nyanyiannya," jawab orang desa itu.

Teman dari kota itu mendengar dengan penuh perhatian, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Saya pikir kamu hanya bergurau. Tidak ada jangkrik di sini. Dan seandainya ada, bagaimana orang bisa mendengar suaranya di tengah kebisingan jalan ini? Jangan-jangan kamu mengira kamu mendengar suara seekor jangkrik?"

Kata orang desa itu, "Tidak,memang ada satu ekor jangkrik bernyanyi di sini sekarang".

Orang desa itu kemudian berjalan beberapa langkah dan berdiri di samping tembok sebuah rumah. Di situ ada tumbuhan merambat. Orang desa itu memetik beberapa daun dan di atas daun itu, seekor jangkrik sedang bernyanyi dengan nyaring. Ketika mereka kembali berjalan-jalan, orang kota berkata, "kamu secara alami mendengar lebih baik daripada kami".

Dikomentari demikian, orang desa itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Saya tidak setuju dengan pendapatmu. Orang desa mendengar tidak lebih baik daripada orang kota. Sekarang lihat, saya akan membuktikannya kepadamu".

Lalu orang desa itu mengambil uang logam dan menjatuhkannya di trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh ke arahnya. Orang desa itu memungut kembali uang logam itu, menyimpannya dan keduanya melanjutkan perjalanan.

Kata orang desa itu, "Tahukah kamu sobat, suara uang logam itu tidak lebih keras dari suara nyanyian jangkrik tadi. Banyak orang kota lebih mendengar suara uang logam ketimbang suara jangkrik. Alasannya bukanlah orang desa mendengar lebih baik. Tidak. Alasannya, kita selalu mendengar dengan lebih baik hal-hal yang biasanya kita perhatikan".

Apa pesan cerita di atas? Seringkali ketika kita dalam masalah dan berdoa, Tuhan bukannya diam saja. Sesungguhnya Ia menjawab. Hanya saja kita lebih fokus pada diri kita sendiri dan permasalahan kita daripada fokus pada Tuhan dan pertolongan-Nya. Selesai berdoa, kita lebih suka memasang telinga untuk mendengar Tuhan menjawab sesuai dengan kemauan dan harapan kita. Kita ingin Tuhan menjawab sesuai dengan permintaan kita. Maka berulang kali Tuhan menjawabnya pun berulang kali pula kita berpikir Tuhan tidak peduli.

Padahal telinga dan mata kita saja yang selektif: hanya mendengar apa yang mau kita dengar dan melihat apa yang ingin kita lihat.

Jadi, apa yang paling sering Anda dengar?

(a). Suara jangkrik

(b). Suara uang logam jatuh

(c). Tergantung

Remember Our Saints: St. Fransiskus Xaverius

0 komentar

Hari ini, tanggal 03 Desember, peringatan Santo Fransiskus Xaverius, seorang imam dan oleh Gereja diangkat sebagai pelindung karya misi.

Fransiskus Xaverius lahir di Spanyol pada tahun 1506. Pada umur Sembilan belas tahun ia belajar di Paris dan bersahabat dengan Ignatius dari Loyola (seorang Santo). Maka pada tanggal 15 Agustus 1534 mereka dengan beberapa teman lain mempersembahkan diri kepada Allah. Terbentuklah inti yang kelak berkembang menjadi Serikat Yesus (SJ). Mereka lalu pergi ke Roma dan menawarkan jasa mereka kepada Paus. Di situ pada tahun 1537 Fransiskus Xaverius ditahbiskan menjadi imam. Empat tahun kemudian ia berangkat ke Asia sebagai misionaris. Sepuluh tahun lamanya ia bekerja di Goa, Sri Langka, Indonesia, dan Jepang. Waktu hendak masuk Tiongkok ia meninggal dunia di pulau Sancia, pada tanggal 3 Desember 1552. Paus Pius XI menyatakan dia sebagai pelindung karya misi bersama Santa Teresia dari Lisieux.

Fransiskus Xaverius mewartakan Injil di daerah-daerah baru dan merintis jalan bagi misionaris lain. Kita juga dipanggil untuk mewartakan Injil kepada orang lain. Tidak selalu perlu dicari daerah baru. Injil ini dapat kita wartakan juga di daerah kita sendiri, di dalam keluarga kita masing-masing.

(Sumber: Anggota keluarga Allah, Kanisius, 1974)