Ternate: Seri Keduabelas

Jumat, April 30, 2010

Seri keduabelas: Tuaian memang banyak

Senin (05/04) pagi pukul 06.40 WIT saya memulai 10 jam perjalanan lagi menuju Ternate. Tugas saya melayani umat di daerah transmigrasi berakhir. Saya tiba di sana Kamis (01/04).

Sungguh, empat hari yang bermakna. Teramat bermakna.

Saya teringat banyak orang yang digembalai oleh Yesus berusaha mencegah Dia pergi meninggalkan mereka. Tetapi Dia tetap pergi juga. "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus" adalah alasan kepergian-Nya (Luk. 4:42-44).

Saya tidak mengatakan hal yang sama kepada umat di daerah transmigrasi di tengah hutan itu. Saya bahkan tidak perlu mengatakan apapun. Umat sudah tahu, saya harus kembali untuk melanjutkan kuliah.

Tetapi berpisah dengan umat yang bertemu dan dilayani oleh frater atau romo paroki hanya setahun dua kali, membuat kata-kata Yesus "Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit, karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" tiba-tiba menjadi sangat jelas sekali maksudnya.

Tuaian memang banyak. Sayang sekali, pekerjanya sedikit. Peminatnya menurun.

Oleh karena itu, terima kasih yang mendalam dari saya untuk Anda yang, di tengah kesibukan yang padat, masih memberikan waktu, tenaga, pikiran dan materi untuk menyelamatkan jiwa-jiwa melalui berbagai ragam dan cara pelayanan, termasuk menjadi penyumbang.

Tuaian memang banyak. Syukurlah, selalu ada pekerjanya. Syukurlah, selalu ada yang tergerak hati. Syukurlah masih ada Anda.

Terima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas kebaikan dan kepedulian Anda dengan berkat dan rahmat yang Anda dan keluarga butuhkan.

Terima kasih banyak.

P.S: Selamat memasuki Bulan Maria. Selamat berdoa Rosario. Bisakah saya menitipkan ujud mohon panggilan menjadi pekerja-pekerja di ladang Tuhan? Terimakasih sebelumnya, kalau bisa.

Ternate: Seri Kesebelas

Selasa, April 27, 2010

Seri kesebelas: Ketika tak ada signal HP

Apa guna sebuah handphone (HP)? Jawabannya: tergantung jenis apa yang kini Anda pegang. Juga tergantung apa saja kepentingan Anda. Kalau pertanyaan ini dilontarkan kepada teman saya, jawabannya tidak serumit itu. "HP ya buat nelpon dan SMS. Titik". Anda bisa jadi memberikan jawaban yang sama atau lebih rumit dari teman saya.

Tetapi jika saya mengatakan fungsi pertama dari HP untuk komunikasi, Anda pasti sepakat. Meminjam moto Nokia, connecting people. Iya kan?

Kalau Anda menjawab iya, itu karena Anda belum menginjakkan kami di daerah transmigrasi sana.

Ketika longboat yang saya tumpangi dari Weda tiba di desa Lelief, saya diberitahu signal handphone baru sampai di desa tersebut. 'Ok, berarti cuma saya yang pegang handphone di tengah umat nanti' pikir saya. Jadi, sebelum mencari ojek yang akan membawa saya ke daerah transmigrasi yang jauh ke dalam hutan, saya menyimpan benda tersebut. 'Tidak ada gunanya juga'.

Setelah menempuh jarak 12 kilometer tibalah saya di tengah umat. Dan surprise… Anak-anak mudanya asyik dengan handphone (HP) di tangan. Beberapa orangtua di usia 30-an tahun juga sama.

Kening saya berkerut, 'Apa gunanya ya HP di tengah hutan tanpa signal ini?'. Segera saya melihat jawabannya: memutar musik, mendengar Ariel Peterpan bersenandung.

Untuk kita, HP itu sarana komunikasi. Untuk umat di daerah transmigrasi sana, HP itu semacam turntable-nya DJ.

Kenyataan itu membuat saya lebih menghargai fasilitas pemutar musik di telepon genggam saya—yang praktis selama ini saya abaikan, padahal sudah ada ratusan lagu di sana. Kenyataan itu pula membuat saya menetapkan dua peraturan dasar. Peraturan pertama, kumpulkan data tentang tempat yang akan tuju. Jangan berasumsi. Dilarang mengandaikan. Apalagi menganggap remeh orang atau fasilitas yang tersedia/tidak tersedia di sana. Hidup ini penuh kejutan. Peraturan kedua, bawalah handphone ke manapun pergi. Jika tidak ada signal, jangan dimatikan dan disimpan saja. Saatnya mendengar Ariel bernyanyi (aneh, jika tidak ada signal, ternyata suara Ariel jauh lebih merdu dari yang saya pikirkan selama ini).

Di atas semua itu yang paling penting dari situasi-tidak-ada-signal itu adalah tidak ada interupsi, tidak ada pengalih perhatian bernama SMS, panggilan masuk/tak terjawab dan email.

Karenanya saya bisa sungguh-sungguh memperhatikan dan mendengarkan dengan telaten umat yang sedang bercerita kepada saya; saya bisa sungguh-sungguh menikmati jagung bakar di tangan; saya bisa sungguh-sungguh menikmati kebersamaan dengan umat; saya bisa sungguh-sunguh menikmati hidup.

P.S: Kalau orang-orang Nokia berkesempatan berkunjung ke daerah transmigrasi sana, mereka akan ditanya balik "Connecting people apaan?" 

Ternate: Seri Kesepuluh

Sabtu, April 24, 2010

Seri kesepuluh: Hujan di tanah kering

Saya ingin membagi kepada Anda sedikit rahasia—tapi Anda boleh saja menyebarluaskannya kepada yang lain.

Hidup kami, paling tidak saya, sebagai frater mirip-mirip dengan Anda yang sedang pacaran dan atau sudah menikah.

'Mirip-mirip' itu persisnya begini. Tanggal 09 Agustus 2002 pada sore hari, sekitar pukul 18.00 WIB, saya dan 20 frater dan bruder menerima busana rohani (jubah/toga) di Novisiat MSC di Karanganyar, Jawa Tengah. Dengan itu kami dinyatakan resmi menjadi seorang biarawan MSC. Juga, dengan memakai busana rohani itu, sebutan 'frater' jauh lebih mantap disandang.

Malam harinya ketika sudah harus berangkat tidur, banyak dari kami yang tidak melepaskan busana rohani itu. Jubah putih bersih itu 'resmi' menjadi pakaian tidur kami malam itu. Saking berbunga-bunganya. Rasanya-rasanya, pagi itu, saya tidak ingin membukanya ketika membersihkan diri di kamar mandi.

Bulan pertama jubah itu membuat saya seperti tidak menjejakkan kaki di tanah. Semuanya indah, penuh motivasi, antusiasme. Hati terus bergelora oleh suka cita yang dalam. Perasaan melambung tinggi. Di bulan pertama itu, saya sungguh-sungguh mengalami hadirat Tuhan. Saya sungguh-sungguh yakin dipanggil Tuhan untuk menjadi abdi-Nya.Doa-doa saya begitu intens. Di bulan pertama sebagai frater lengkap dengan busana rohani, saya sudah siap mati sebagai martir. Luar biasa.

Tetapi itu bulan pertama. Setelah itu semuanya berjalan normal, rutin, biasa dan basi. Apalagi sekarang di tahun kedelapan sebagai frater. Ada kalanya jubah putih yang tak lagi putih cerah itu membuat saya kepanasan. Pikiran untuk mengenakannya saat tidur tidak pernah muncul lagi.

Ritme hidup saya sebagai frater pun mengenal musim. Ada kalanya musim hujan (inilah saat di mana segalanya berlangsung seperti pada waktu bulan pertama saya memakai jubah). Adakalanya musim kemarau (hidup begitu kering, kurang bergairah, kurang termotivasi). Adakalanya musim kemarau berlangsung lebih lama dari musim hujan.

Mirip dengan pacaran dan perkawinan, bukan? Ada masa di mana cinta bisa sangat berkobar-kobar, ada masa di mana cinta itu suam-suam kuku. Pacaran dan perkawinan pun, dengar-dengar, mengenal juga musim kemarau dan musim hujan.

Syukurlah, Tuhan itu Maha Baik—tentu saja. Dia selalu mengirimkan momen, kesempatan, peluang dan orang yang tepat pada waktunya. Keberadaan mereka seperti layaknya hujan di atas tanah kering, layaknya hujan yang mengakhiri kemarau panjang.

Saya baru saja mengalami hujan itu. Ya, di daerah transmigrasi itu.

Umat di sana dilayani frater dan romo paroki hanya dua kali dalam setahun: pada Natal dan Paskah. Itu berarti kesempatan mendapat penggembalaan hanya sebanyak itu. Karena itu mereka sungguh rindu kehadiran seorang gembala di tengah mereka. Mereka menginginkan seorang gembala ada bersama-sama mereka sesering mungkin. Dan mereka sama sekali tidak malu-malu mengatakannya. Sejak saya tiba di sana (Kamis, 01/04) sampai kembali lagi ke Ternate (Senin, 05/04), mereka terus mengungkapkan kerinduan mereka.

Betapa seorang gembala sungguh mereka butuhkan.

Mendengar kerinduan dan kebutuhan mereka akan kehadiran seorang gembala, rasanya seperti melihat tetes-tetes air hujan jatuh dan menyuburkan lagi motivasi panggilan saya.

Tuhan Maha Baik.

P.S: Jika Anda sedang berada dalam musim kemarau juga, saya berdoa supaya Tuhan mengirimkan hujan dalam hidup Anda. Semoga Anda dikarunia rahmat yang Anda butuhkan.

Ternate: Seri Kesembilan

Jumat, April 23, 2010

Seri kesembilan: Nyaris lupa… padahal penting

Kita mundur dulu ke belakang, ke perjalanan saya dari Sofifi. Ada yang belum saya ceritakan.

Di atas Avanza yang saya tumpangi, di sebelah kanan saya duduk seorang bapak. Usianya 60-an tahun, mungkin. Penampilannya bersahaja.

"Mau kemana pak?" tanya saya.

"Ke Lelief" jawabnya. Singkat tetapi ramah.

 "Ke mana?" sang bapak bertanya balik.

"Sama pak, ke Lelief. Tapi saya akan terus ke daerah transmigrasi. Saya dari Gereja Katolik dan mau melayani umat di sana".

Pembicaraan kami menjadi lancar sesudahnya. Ia bukanlah penduduk desa Lelief. Ia hanya ingin mengunjungi anaknya di sana.

Untuk saya, tidak menjadi soal dia penduduk asli atau bukan. Yang penting tujuan kami sama; yang penting saya tidak lagi seperti orang buta yang meraba-raba; yang penting saya tidak sendirian.

Mobil yang kami tumpangi tiba di pelabuhan Weda hanya untuk mendapati kenyataan bahwa speedboat yang melayani penyeberangan ke Lelief sudah berangkat 10 menit yang lalu─dan baru akan kembali besok. Padahal saya sudah harus tiba di daerah Transmigrasi untuk merayakan Kamis Putih pada malam harinya. Arloji di tangan saya menunjukkan pukul 15.00 WIT.

Saya mulai panik. Ini Weda. Saya tidak mengenal siapapun. Saya bertanya ke sana ke mari kalau-kalau ada speedboat lain, perahu atau apapun yang hendak pergi ke Lelief. Hasilnya nihil. Masih ada beberapa speedboat yang bersandar tetapi semua menolak berhenti sebentar di Lelief hanya untuk menurunkan dua penumpang. Tujuannya mereka bukanlah Lelief.

Saya mulai berhitung dengan keadaan: kalau besok baru berangkat, saya akan menginap di mana malam ini? Saya ragu adakah penginapan di kota sekecil ini. Mungkin ada orang Katolik di Weda tetapi mencari mereka bisa jadi seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Di depan gerbang masuk pelabuhan terdapat pasar, ini alternatif penginapan semalam. "Sesekali tidur di bekas lapak bolehlah" pikir saya. "Bagaimana kalau ada preman yang mabuk-mabukan di sana?" Arrrgghhh…

Nyaris putus asa, saya pergi menemui sang bapak yang hanya berdiri saja di pos polisi di depan gerbang pelabuhan. Rupanya beliau tahu sia-sia saja mencari tumpangan ke Lelief selain speedboat yang baru saja berangkat.

"Kalau kita tidak menemukan tumpangan ke Lelief, kamu ikut saya, kita menginap di keluarga saya yang ada di sini" katanya begitu saya mengatakan tidak ada speedboat yang bersedia ke Lelief.

Saya menatapnya seperti menatap malaikat yang dikirim Tuhan. Nama 'malaikat' di hadapan saya ini: Haji Muhammad.

"Terima kasih, bapak Haji" kata saya, hampir menangis karena lega dan terharu. Seorang haji menolong seorang frater. Apalagi yang lebih indah dari kenyataan manusiawi itu?

Tuhan menjaga dan melindungi saya dengan cara yang unik.

P.S: Seperti sudah Anda ketahui, saya tiba di Lelief sore itu juga menumpang longboat yang berangkat sejam kemudian. Longboat itu bukan untuk kepentingan komersil sebenarnya. Berkat Haji Muhammad saya bisa tiba di Lelief. Pemilik longboat itu kenalan beliau.

Ayat Favorit Hari Ini

Ternate: Seri Kedelapan

Kamis, April 22, 2010

Seri kedelapan: Sarapan terenak sedunia

Sebelum berangkat ke kantor atau tempat kerja lain atau sekolah atau kuliah, apa yang biasanya Anda santap sebagai sarapan? Paling tidak pagi ini, apa yang Anda santap? Atau kalau sekedar minum, apa yang Anda minum?

Saya sudah menikmati berjenis-jenis sarapan pagi mulai dari hidangan lengkap (nasi+ikan/tahu/tempe/telur dadar+sayur+teh manis kalau lagi ada gula/susu kalau ada kelebihan bujet, ini sarapan pagi kami di Pineleng) sampai hidangan tidak lengkap (indomie goreng saja, bihun goreng saja, oat quaker saja, nasi goreng saja atau hanya segelas jus apel atau pir atau susu coklat, ini sarapan sewaktu bertugas di Pluit).

Di antara semua yang sudah dan biasanya masuk ke perut saya pada pagi hari, baru sarapan pagi di daerah transmigrasi saya sebut sarapan terenak sedunia.

Sarapan apa?

Jumat malam (02/04). "Besok kita pergi ke ladang ya, saya mau lihat-lihat sambil olahraga" begitu pesan saya sebelum berangkat tidur kepada beberapa Mudika yang berjaga di gereja.

Sabtu (03/04) pukul 06.30 WIT. Saya ditemani tiga orang Mudika pergi ke ladang. Belum lagi sarapan. "Pakai sepatu boats frater soalnya banyak rumput gatal" kata seorang Mudika. Baiklah. Kami pun berangkat. Jarak dari gereja ke ladang yang biasanya diolah umat kurang lebih satu kilometer. Pagi itu cerah sekali, syukurlah. Kami berjalan menyusuri pinggiran kali—bukan kali besar, kali yang ini jauh lebih kecil (lebarnya hanya 3 meter) dan lebih dangkal (setengah betis orang dewasa)— menuju ladang.

Di antara kami berempat, hanya saya yang menatap lurus ke depan. Ketiga teman seperjalanan saya ini sibuk mencari-cari sesuatu di kali kecil itu. "Siapa tahu dapat belut, frater" adalah jawaban yang saya terima dari salah satu yang memegang golok. Rupanya kali sekecil itu menyimpan potensi juga. Dan benar saja. Pagi itu mereka menangkap dua ekor belut. Tidak serentak mereka berhasil menangkap keduanya. Belut-belut itu ditangkap di dua titik yang berbeda.

Saya baru tahu pagi itu kalau di pagi hari belut, terutama kepalanya, akan muncul di permukaan air untuk menerima cahaya matahari melalui matanya. "Seperti charge, frater" jelas salah seorang Mudika. Mata belut yang sedang menerima cahaya matahari berubah menjadi putih semuanya. Dengan kata lain belut yang sedang nge-charge itu buta sementara. Rupa-rupanya sinar matahari yang diperoleh di pagi hari itu disimpan untuk keperluan bertualang pada malam hari. "Matanya akan menjadi terang seperti kunang-kunang di waktu malam" tambah seorang lain lagi.

Kami melanjutkan perjalanan sambil membawa dua ekor belut bernasib sial itu. Akhirnya tibalah kami ladang. Deretan jagung yang sudah siap dipanen menyambut kami. Dari balik lebatnya jagung-jagung itu, seorang bapak muncul dengan golok besar di tangan. Seorang umat ternyata yang mengira kami adalah gerombolan pencuri jagung. Rupanya semalam sebagian jagungnya sudah dipanen terlebih dahulu oleh pencuri.

Beliau mempersilahkan kami mampir di pondoknya yang kecil di pojok ladangnya. Dengan segera ia memetik sejumlah jagung muda, mengumpulkan beberapa potong kayu api dan menyalakannya. Mudika yang menemani saya segera mengambil alih pekerjaan beliau.

Dan sarapan kami pagi itu adalah jagung bakar dan belut bakar. Sebelum dibakar belut itu hanya ditaburi garam yang tersimpan di pondok—sebelumnya si belut sudah dicuci bersih-bersih di kali; hanya ditaburi garam saja—dengan takaran yang sungguh pas—dan dimakan dengan jagung bakar. Itu saja. Tidak ada mentega. Tidak ada sambal.

Tetapi rasanya …

Itulah sarapan pagi terenak sedunia. Sederhana dan apa adanya adalah gerbang menuju sesuatu yang istimewa untuk jiwa.

Ternate: Seri Ketujuh

Rabu, April 21, 2010

Seri ketujuh: 40 tahun yang tidak sia-sia

Jumat (02/04) pagi hari. Terbetik kabar, ada umat Katolik dari desa seberang, Fritu nama desa itu, hendak datang merayakan Jumat Agung. Siangnya, sekitar pukul 12.30 WIT mereka tiba. Segera saya, diantar Ketua Stasi, pergi ke rumah di mana mereka sedang mengaso dan akan menginap sampai Hari Raya Paskah.

Ada 15 orang umat yang datang dari Fritu. Setelah bersalam-salaman dengan mereka semua, duduklah saya dengan 3 orang bapak: Paulus, Sergius, Laurentius. Usia ketiganya antara 60-70 tahun.

Cerita punya cerita tahulah saya ketiga bapak inilah cikal bakal bertambahnya umat Katolik di Fritu.

"40 tahun yang lalu kami bertiga tiba di desa Fritu, merantau dari Timor Leste. Hanya kami bertiga yang beragama Katolik di antara jemaat Protestan. Sekarang sudah bertambah menjadi 50 orang. Baru-baru ini 30 kepala keluarga Protestan mau pindah Katolik. Saya cuma bisa bilang tunggu pastor paroki" cerita pak Paulus.

Apa yang mereka lakukan sehingga jiwa-jiwa bertambah? Mereka tidak berdiri di jalan-jalan sambil berkotbah, tidak pula merasul apalagi mengiming-imingi 47 orang itu dengan ini dan itu.

Ketiganya menikah dengan wanita-wanita yang keukeuh mempertahankan agama Protestan yang mereka anut. Anak-anak, menantu-menantu dan cucu-cucu, semuanya Protestan. (Jangan ditanya seberapa besar dan seberapa sering tekanan dan atau godaan masyarakat sekitar dan keluarga besar dari pihak istri agar ketiganya menganut agama yang sama. Tambahkan dengan ajakan baik-baik sampai omelan, cemberutan dan silent protest istri masing).

Lalu apa yang ketiganya lakukan? Mereka hanya setia dengan iman Katoliknya. Dan hidup baik. Itu saja. Dan itu berlangsung selama 40 tahun hidup mereka di desa Fritu.

Setelah 40 tahun dalam kesetiaan dan kebaikan, satu-persatu anggota keluarga berputar haluan menjadi Katolik. Belakangan diikuti oleh keluarga besar dari istri-istri mereka.

Mereka tersentuh dan lalu tergerak menjadi Katolik demi menyaksikan iman sebesar itu.

"Tiap minggu kami beribadah bergantian di rumah-rumah kami. Ada buku tatacara ibadah, Kitab Suci dan patung Yesus. Kalau bulan Rosario, kami berdoa Rosario setiap malam" terang pak Paulus. Ongkos perjalanan yang mahal membuat mereka tidak bisa setiap kali datang beribadah bersama umat di daerah transmigrasi.

"Frater, itu buku tatacara ibadah dan Kitab Suci sudah dari 40 tahun yang lalu. Sedang patung Yesus pemberian orang yang waktu diberikan sudah rusak" pak Laurentius menimpali.

"Kami tidak ada Rosario frater. Jadi biasanya kalau berdoa Rosario pakai jari-jari saja" tambah pak Sergius. Besarnya biaya transportasi ke Ternate membuat masalah ketiadaan sarana untuk berdoa ini tidak dapat dipecahkan.

Tetapi itulah iman.

Dan Tuhan tidak buta: Dia memberkati kesetiaan iman dan kebaikan yang gigih itu dengan buah-buah yang lebat.

Sungguh tidak sia-sialah 40 tahun itu.

P.S: Ketika mereka sudah harus kembali ke Fritu lagi, saya menyerahkan Kitab Suci, buku Ibadah dan Rosario yang biasanya saya bawa ke mana-mana dan pakai. Saya bangga sekali mengenal mereka dan mendengar sharing-sharing iman mereka. Seumur-umur sebagai frater, saya belum pernah sebangga itu. Tuhan memberkati dan menguatkan jiwa-jiwa mereka.

Ternate: Seri Keenam

Selasa, April 20, 2010

Seri keenam: Ini tentang tempat tidur

Gereja mungil itu hanya cukup menampung 50 sampai 60 umat. Berbeda dari rumah-rumah para transmigran yang berbahan papan, gereja dibangun dengan dinding beton. Gereja ini bagian dari sarana prasarana yang disediakan pemerintah setempat. Sempat menjadi perdebatan umat Kristen mana yang menggunakannya (karena di sana, selain Katolik, ada pula Protestan dan Pentakosta), akhirnya disepakati bahwa umat Katoliklah yang menggunakannya (karena faktor jumlah jiwa terbanyak, itu statistik sebelum 35 KK memutuskan kembali ke kampung halaman).

Di dalam gereja, di samping kanan altar ada ruangan yang pastilah dimaksudkan sebagai sakristi. Tetapi umat sudah menyulapnya menjadi kamar tidur bagi frater atau romo yang bertugas di situ.

Kamar tidur itu tanpa jendela. Hanya ada 2 pintu: yang satu ke altar yang satunya lagi langsung ke luar gereja. Isi kamar tidur terdiri dari sebuah meja yang lebarnya tidak lebih dari 2 jengkal tangan orang dewasa dan panjangnya tidak lebih dari 4 jengkal tangan orang dewasa, sebuah kursi kayu dan sebuah tempat tidur yang besarnya bisa memuat 2 orang dewasa sehingga nyaris mengisi ¾ ruangan.

Tempat tidur ini menarik perhatian. Bukan hanya karena besarnya dan bagaimana ia membuat kamar tidur itu menjadi sedemikian sesak.

Ada kelambu putih di sekeliling tempat tidur itu. Masih baru kelihatannya—"Di sini banyak nyamuk kalau malam frater" terang Ketua Stasi. Kain seprei-nya juga sama: baru, berwarna hijau tua. Kain sepreinya membungkus kasur yang hanya sedikit lebih tebal dari tikar—begitu Anda membaringkan tubuh langsung terasa papan keras di bawahnya.

Selain itu, tempat tidur ini menyadarkan saya kalau saya terlalu tinggi. Panjang tempat tidurnya hanya mencapai mata kaki. Terakhir saya mengukur tinggi badan saya 170 sekian sentimeter.

Saya tidak memberitahukannya kepada Ketua Stasi atau siapapun umat di sana. Karena melihat situasi hidup umat saya berani memastikan itulah kelambu, seprei dan kasur terbaik; itulah tempat tidur terbaik yang bisa umat sediakan untuk frater dan romo yang bertugas di sana.

Ada kalanya yang terbaik dalam hidup datang dalam bentuk yang lebih kecil. Kita hanya perlu menyesuaikan diri.

Di luar kamar tidur saya, masih di dalam gereja, beberapa anggota Mudika (laki-laki) tidur di atas bangku-bangku panjang yang didempet-dempetkan menjadi tempat tidur. Yang tidak kebagian bangku, membawa tikar dari rumah dan membentangkannya di atas lantai semen yang keras dan kasar. Mereka menjaga sekaligus menemani saya tidur. Begitu setiap malam.

Tuhan sungguh-sungguh tidak membiarkan saya sendirian.

Ternate: Seri Kelima

Seri kelima: Tak kenal maka tak bersyukur

Tahun 2005 sebanyak 50 kepala keluarga (KK) memilih bertransmigran ke Maluku Utara, tepatnya 12 kilometer dari desa Lelief, di tengah hutan. Mereka berasal dari Timor Barat dan Timor Leste. Semuanya Katolik.

Alasan mereka berpindah tempat domisili tidak muluk-muluk: ingin memperbaiki nasib. Ketika mereka tiba di daerah yang sekarang dikenal sebagai Trans Kobe ini mereka mendapati kondisi tanahnya seperti tanah terjanji yang berlimpah susu dan madu.

"Di tempat asal kami, kalau tanam nangka bisa puluhan tahun baru berbuah. Di sini cukup tiga tahun saja" kata seorang umat. Ia masih memberi beberapa contoh lain yang menunjukkan kesuburan tanah yang mereka diami.

Bukan hanya itu, saya menyaksikan sendiri sumur di samping setiap rumah yang dalamnya hanya 3 meter. "Di Timor bisa 80 meter, frater. Padahal yang penting 'kan air" katanya. Dia benar. Tetapi air pula yang menyebabkan 35 kepala keluarga, tak lama kemudian (hanya 1 tahun) memilih kembali ke kampung halaman mereka.

"Di samping lokasi transmigrasi ini ada kali besar, frater. Waktu kami masuk tahun 2005 belum dibikin tanggul. Setiap kali hujan, air kali meluap. Setiap kali air kali meluap, kami terendam banjir setinggi lutut bisa sampai berminggu-minggu. Mau hidup bagaimana itu frater?" Baru pada tahun 2007 tanggul dibuat. Maka selama dua tahun mimpi 15 kepala keluarga memperbaiki nasib terendam bersama luapan air kali. Yang ada adalah bagaimana bertahan hidup. Mereka semua adalah petani ladang, sampai sekarang. Panen apa yang bisa diharapkan jika seluruh ladang ikut terendam berminggu-minggu?

"Bantuan sembako dari pemerintah hanya 3 bulan pertama. Sesudah itu kami berusaha sendiri". Baru setelah tanggul dibuat mimpi itu hidup lagi.

Setiap kepala keluarga diberi jatah mengolah lahan seluas hampir satu hektare. Lahan seluas itu ditanami jagung dan umbi-umbian. Beberapa memanfaatkan pekarangannya yang luas untuk bertanam tomat, bawang dan cabe untuk dijual di pasar di desa Lelief. Nyaris setiap kepala keluarga memelihara beberapa ekor ayam dan bebek. Ada yang menambah lagi dengan beberapa pasang kambing (di Lelief cukup banyak penduduk muslim, dengan demikian kambing ada pangsa pasarnya). Beberapa sudah bisa membeli motor untuk mengojek. "Kalau tidak mengojek, hidup bisa lebih susah kalau hanya mengandalkan ladang" aku seorang umat yang memiliki motor. Dua keluarga membuka kios kecil-kecilan—yang lebih banyak merugi karena kebanyakan pembelinya lebih tepat disebut pengutang.

"Baru tahun lalu kami mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa alat pembangkit listrik tenaga surya untuk setiap kepala keluarga" cerita umat yang lain lagi. Listrik dari tenaga surya ini baru dimanfaatkan ketika malam tiba.

Pernahkah Anda menyaksikan di layar televisi rumah-rumah para transmigran? Begitulah. Rumat mungil dari papan yang seluruhnya dicat putih. Sebagian masih tetap demikian. Sebagian lagi sudah berubah. Dindingnya sudah disemen kasar walaupun baru setengahnya saja.

Cerita-cerita di atas meluncur dari mulut umat ketika kami sedang makan bersama di rumah mereka (tiga keluarga secara bergilir menjamu saya makan). Bukan di atas meja makan—tidak ada meja makan juga—tetapi lesehan di atas tikar di ruangan yang normalnya adalah ruang tamu.

Di ujung ibadah minggu Paskah, bendahara stasi mengumumkan jumlah kolekte yang terkumpul mulai dari Desember 2009 sampai dengan ibadah malam Paskah (03 April 2010). Jumlah semuanya Rp 200 ribu sekian.

Ternate: Seri Keempat

Senin, April 19, 2010

Seri keempat: Soalnya bukan sepadan atau tidak sepadan

Hari kamis pagi (01/04) di pastoran paroki. Sehabis sarapan romo paroki meminta saya menemuinya di ruangan kerjanya. Di sana beliau menjelaskan ke mana saya akan diutus dan rute yang akan saya tempuh.

Saya manggut-manggut mengerti.

Tidak ada yang mengantar. Pun tidak ada yang akan menjemput. Saya harus mencari sendiri. Sudah berapa kali saya ke Ternate? Inilah pengalaman pertama saya.

Maka, saya mengandalkan kepercayaan romo paroki ("Kamu kelihatan bisa berkomunikasi dengan orang karena itu saya berani mengutus kamu ke sana"), penyelenggaraan Ilahi (Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya), keberanian sendiri alias nekat (masa sih gak bisa?!) dan … Rp. 1.000.000.

"Itu transport kamu pulang pergi" kata si romo.

Ok, tapi satu juta?

Romonya lalu menjelaskan lagi mengapa satu juta rupiah hanya untuk transportasi saja.

Baiklah.

Pukul 08.30 WIT saya meluncur dari pastoran ke tempat tugas. Sodara-sodara, malamnya sudah perayaan Kamis Putih. Saya berharap semoga bisa merayakannya bersama dengan umat.

Inilah rute perjalanan saya (saya menyebut tempatnya, siapa tahu Anda berkunjung ke sana, paling tidak Anda tahu di belahan timur Indonesia ada daerah-daerah ini). Dari kota Ternate saya menumpang speedboat menyeberangi laut ke kota Sofifi. Dari sana saya melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum (masih ingat kan kalau angkutan umum di wilayah ini mobil jenis Avanza dan sejenisnya?) ke kota Weda. Kondisi jalan yang kami lalui terdiri atas tiga bagian: mulus, rusak dan rusak parah. Kebanyakan rusak dan rusak parah.

Dari Weda saya harus menempuh rute laut lagi. Speedboat yang melayani penyeberangan antarpulau sudah berangkat 10 menit sebelum saya tiba di pelabuhan Weda. Syukurlah masih ada longboat. Dengan boat ini diiringi hujan yang tidak mau kompromi, saya menyeberang ke desa Lelief. Dari desa ini dengan menggunakan ojek—itu satu-satunya alat angkut yang tersedia—saya harus menempuh jarak 12 kilometer untuk sampai ke stasi di mana saya akan merayakan Trihari Suci dan Paskah. Stasinya ada di tengah hutan, daerah transmigrasi.

Saya tiba di daerah transmigrasi nyaris pukul 18.00 WIT.

Tukang ojek yang sudah mengenal umat Katolik di sana langsung mengantar saya ke rumah Ketua Stasi.

Setelah bercerita beberapa saat dengan Ketua Stasi yang usianya sekitar 30-an tahun, saya bertanya, "Berapa umat di sini?" (ini pertanyaan yang tidak sempat saya tanyakan kepada romo paroki).

"15 kepala keluarga (KK), frater"

"15 KK?" Saya hampir tidak mempercayai pendengaran saya.

Ia mengangguk tegas.

Jadi, saya menempuh perjalanan nyaris 10 jam tanpa henti, diguyur hujan deras, seluruh badan pegal dan sakit karena kondisi jalan yang memprihatinkan dengan ongkos sejuta rupiah hanya untuk bertemu dengan 15 KK?

Ketika saya merebahkan diri di tempat tidur sebentar sebelum mempersiapkan diri memimpin ibadah Kamis Putih, saya teringat kata-kata pemimpin tarekat kami, MSC, dalam sebuah kesempatan, "Umat, sesedikit apapun, berhak untuk digembalakan. Selebihnya serahkan kepada Roh Kudus".

Mengingat itu saya mengatakan kepada diri sendiri, "Untuk sebuah pelayanan dan keselamatan jiwa-jiwa, soalnya bukan lagi sepadan atau tidak sepadan, sebanding atau tidak sebanding".

Tubuh saya masih sangat capek. Tetapi jiwa saya sudah segar kembali, siap untuk memimpin perayaan cinta kasih Kristus di malam itu.

Ayat Favorit Hari Ini



Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yes. 6:8)

Ternate: Seri Ketiga

Seri ketiga: Istirahat saja

Masih seputar percakapan kami dengan romo paroki saat makan malam di hari pertama kami tiba di Ternate.

"Kapan torang pi di stasi, pastor?" tanya saya dengan bersemangat, sedikit tidak sabar ingin bertemu umat. (Kapan kami ke stasi, pastor?)

"Nanti. Istirahat dulu" jawab beliau, singkat.

Pikir saya, mungkin maksudnya malam ini istirahatnya besok baru berangkat. Saya tidak bertanya lagi. Topik pembicaraan berpindah.

Ternyata keliru. Kami tiba di Ternate hari senin sore dan baru berangkat ke stasi (saya dan teman saya pergi ke stasi yang berbeda) pada hari Kamis pagi.

Apa yang kami lakukan selama kurang lebih tiga hari itu? Tidur, bangun, mandi, misa pagi, sarapan, nonton TV, tidur, bangun, makan, nonton TV, tidur lagi, bangun lagi, mandi, jalan-jalan sebentar (liat-liat kota atau beli koran KOMPAS di distributor yang jaraknya 300 meter dari pastoran), makan, nonton TV, tidur…

Istirahat.

Adakah saya menikmatinya? Kalau Anda terbiasa bekerja dari pagi sampai malam, istirahat yang sedemikian bisa sangat menyiksa. Belum lagi melihat kesibukan romo paroki dan karyawan pastoran dan sekretariat paroki, siksaan bertambah dua kali.

Pada hari rabu pagi, ketika saya mulai uring-uringan karena tidak ada yang bisa dikerjakan, saya mulai berpikir, "Bahkan mobil dengan laju gila-gilaan seperti dalam perlombaan F1 pun beberapa kali harus melambat dan berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar".

Tubuh saya butuh istirahat. Hidup saya perlu diperlambat dan berhenti sebentar. Jiwa saya butuh menarik nafas, mengaso, mengisi ulang bahan bakar.

Mungkin juga, ada kalanya, Tuhan memang menghendaki saya beristirahat.

Ok-lah. Tidak ada yang salah dengan tidak mengerjakan apapun selama satu-dua hari.

Istirahat.

Hari Kamis pagi pada saat sarapan romo paroki mengatakan bahwa selesai sarapan saya harus berangkat ke stasi. Masa istirahat selesai. Saatnya bekerja.

Sebelum berangkat beliau meminta saya menemuinya di ruang kerjanya. Di sana beliau menjelaskan rute perjalanan saya menuju stasi.

Mendengar penjelasan beliau saya tersadar, memang saya sungguh membutuhkan istirahat tiga hari. Ada maksudnya ternyata beliau meminta kami beristirahat saja di pastoran.

Ternate: Seri Kedua

Minggu, April 18, 2010

Seri kedua: Apa yang frater harapkan?

Pukul 13.20 WIB kami tiba di bandara Babullah, Ternate. Setelah turun dari pesawat dan menjejakkan kaki di tanah Ternate kami sudah ditunggu oleh 2 bus pengangkut penumpang pesawat dengan kapasitas 30-40 penumpang. Ya, tidak ada penghubung —ada istilahnya tapi saya tidak tahu—dari pesawat ke ruang kedatangan bandara. Saya dan teman saya turun belakangan karena itu kami harus berjalan kaki dari landasan pesawat menuju ruang kedatangan menunggu (lagi) tas-tas kami. Jarak perjalanan kurang lebih 5 menit.

Tidak lama kemudian kami sudah berada di luar bandara, siap untuk dijemput. Tetapi oleh siapa?

Sebelum berangkat kami sudah menitipkan pesan kepada yang mengutus kami untuk mengontak romo dan frater yang sementara bertugas di paroki Ternate untuk menjemput kami. Biasanya juga begitu. Ia mengiyakan. Kami tenang.

Hasilnya? TIdak ada siapa-siapa yang muncul dengan pertanyaan, "Frater ya?".

Yang muncul (dengan agresif, seperti biasa) adalah supir-supir angkutan yang setengah bertanya, setengah merayu, setengah memaksa agar kami menggunakan mobilnya sebagai tumpangan. (Saya terheran-heran dan terkagum-kagum, ternyata yang namanya angkutan umum di Ternate itu mobil-mobil jenis Avansa, Terios, Xenia, Yaris dan Inova yang diberi plat kuning. Keren ya?)

Kami tidak bergeming karena yakin pasti akan dijemput. Saya menelpon frater yang bertugas di Ternate. Tidak diangkat. Saya menunggu sebentar, berharap akan ditelepon balik. Ternyata tidak. Jadi saya meneleponnya lagi. Sama. Saya mengirim pesan pendek. Balasannya datang, "Saya lagi di Manado". Gubrak…

Si frater lalu mengirimkan nomor romo paroki. Saya menelepon. Tidak diangkat juga (setelah bertemu, ia mengaku sedang berolahraga).

Perut mulai keroncongan (nasi goreng seukuran kepalang tangan saja tidak bisa disebut makan siang 'kan?)

Sudah pukul 14.15 WIB. Kami sudah ditinggal pergi oleh supir-supir angkutan yang "ganas" itu. Sebagian karena sudah menemukan penumpang. Sebagian karena percaya rayuan mereka tidak mempan. Di luar bandara sudah sepi. Mobil-mobil angkutan umum di parkiran tinggal satu-dua.

Belum ada tanda-tanda.

Seorang supir angkutan umum menghampiri kami dan bertanya ini-itu. Setelah memperoleh jawaban, dia mengaku tahu tempat tujuan kami, kenal baik sang romo paroki (sosok yang disebutnya dikenal seantero Ternate), dan kendaraannya biasa digunakan romo paroki untuk mengantar tamu beliau.

Baiklah.

"Berapa menit dari sini ke Gereja paroki?" tanya teman saya, mulai menyerah.

"Yaaaa, 20 menit" jawabnya.

"Bayar berapa?" tanya saya, siap-siap berangkat.

"Seratus ribu" jawabnya lagi, ringan.

Saya dan teman saya saling menatap. Jadi, untuk perjalanan yang hanya dua puluh menit itu kami harus membayar seratus ribu?

Kami tetap menunggu jemputan.

Pesan pendek masuk, dari frater yang mengaku sedang di Manado, katanya jemputan dalam perjalanan. Pukul 15.25 kami tiba di pastoran paroki. Benar, hanya 20 menit saja jaraknya.

Malamnya, di meja makan, saya menceritakan kepada romo paroki perbandingan tarif dan jarak yang tidak masuk akal itu. Beliau tertawa sambil bertanya balik, "Apa yang frater harapkan?".

Benar. Hidup, adakalanya, berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hidup memiliki jalannya sendiri. Tuhan mengatur dan mengarahkan hidup kita dengan pikiran dan rancangan-Nya sendiri.

Kalau itu terjadi (atau kalau sekarang sedang terjadi), ikhlaskan. Tidak ada gunanya terus bertahan dengan rencana awal. Miliki rencana B.

Kalau dipikir-pikir, bodoh juga keputusan kami itu. Mengapa tidak membayar saja seratus ribu ketimbang membiarkan lambung terluka karena kosong? Kalau lambung terluka, bukankah biayanya bisa jadi lebih besar dari seratus ribu?

Ternate: Seri Pertama

Sabtu, April 17, 2010

Mulai tanggal 29 Maret sampai 08 April 2010 saya berada di Ternate. Saya menceritakan kembali perjalanan saya itu kepada Anda. Dalam bentuk serial—tidak mau kalah sama sinetron. Selamat menikmati.

Seri Pertama: Ternate, Here I Come… finally

Senin, 29 Maret 2010, saya bersama seorang teman frater meninggalkan Manado menuju Ternate. Kami berdua diutus untuk melayani umat di sana selama Tri Hari Suci dan Paskah.

Hari itu, pukul 06.05 WITA, kami sudah berada di bandara Sam Ratulangi Manado. Di tiket kami tertera waktu keberangkatan, pukul 07.50 WITA. "Masih banyak waktu" pikir saya. Jadi setelah selesai melapor, kami mencari sarapan pagi di salah satu rumah makan sudah buka di dalam bandara. Nasi goreng sepiring dan air mineral sebotol. Kami berdua masih duduk-duduk lagi sehabis sarapan menikmati koran pagi.

Pukul 07.30 WITA. Saya mengajak teman saya menuju ruang tunggu menunggu panggilan boarding. Di sana sudah menunggu penumpang lain yang setujuan dengan kami.

Pukul 07.50 WITA. Tidak ada apa-apa yang terjadi. Tidak ada pengumuman. Tidak ada pemberitahuan. Tidak ada seorang pun dari maskapai penerbangan bersangkutan atau pihak bandara yang memberitahu apa yang terjadi dengan pesawat yang akan kami tumpangi. Tidak ada penjelasan apapun.

Kami mulai gelisah. Waktu terus bergerak. Pukul 08.30 WITA. Tetap, tidak ada penjelasan. Tetapi jelas sudah keberangkatan tertunda.

Saya sudah beberapa kali bepergian ke beberapa kota yang berbeda menggunakan pesawat terbang. Dan beberapa kali pula mengalami penundaan. Dan, bagian yang paling menjengkelkan bukanlah fakta bahwa pesawat yang akan saya tumpangi tidak berangkat tepat pada waktunya—berbagai hal bisa saja terjadi dan itu bisa dimaklumi. Juga bahwa penundaan itu membuat saya harus menunggu. Bukan itu—tidak berarti tidak menjengkelkan sama sekali, hanya bukanlah yang 'paling' saja.

Tidak ada seorangpun yang memberitahu apa yang terjadi dan memberi perkiraan kapan penundaan ini akan berakhir, itu yang paling menjengkelkan. Tidak adakah yang peduli bahwa menunggu tanpa penjelasan itu benar-benar menyebalkan—untuk beberapa orang bisa memicu tekanan darah tinggi? Jika saya sudah membayar dengan sejumlah uang, saya layak memperoleh penjelasan, 'kan?

Begitulah. Baru dua jam kemudian seseorang dari pihak bandara datang memberi alasan penundaan. Cuaca. Tentu saja, apalagi? Tidak ada taksiran kapan persisnya kami akan diberangkatkan.

Pukul 11.30 WITA. Datang seseorang dari maskapai penerbangan, "Makan siang sudah tersedia. Bisa diambil dengan menunjukkan boarding pass". Mendengar pengumuman itu, benak saya dipenuhi satu hal, "Siang ini akan jadi sangat panjang".

Perut saya belum keroncongan, tetapi makan kayaknya bisa menjadi pelepas stress menunggu. Menunya nasi goreng. Lagi?

Di luar perkiraan—siang yang panjang tadi—hanya setengah jam berselang panggilan untuk boarding terdengar.

Pukul 13.20 WIB kami sudah menjejakkan kaki di bandara Sultan Babulah Ternate. Akhirnya…

Tunggu, ada yang belum saya ceritakan.

Sudah saya katakan bahwa saya sudah beberapa kali mengalami penundaan keberangkatan pesawat. Tetapi saya tidak juga belajar dari pengalaman.

Pagi itu ketika hendak diantar ke bandara saya sok yakin penerbangan kali ini pasti tepat waktu. Jadi saya tidak membawa satupun buku bacaan. Rencananya, sambil menunggu panggilan boarding saya akan membeli koran lokal di bandara. Nah, setelah selesai membaca semua beritanya pastilah panggilan itu akan terdengar. Ternyata sampai iklan-iklannya pun sudah saya pelototin satu-satu… yah, Anda sudah tahu sisa ceritanya. Saya membeli lagi koran lokal yang lain. Juga sama, tidak menolong.

Ada telepon genggam di tangan. Tetapi berhubung saya tidak memiliki akun Facebook, tidak banyak yang bisa diharapkan. Mau browsing ke sana ke mari, ingat pengeluaran pulsa. Sial sekali hari itu.

Pengalaman itu guru yang terbaik… Belajar dari pengalaman… Saya tahu dua ungkapan ini. Tetapi, yahhh, ada kalanya hati dan pikiran yang bebal dan sok mengacaukan dan membatalkan pelajaran-pelajaran yang berharga dari masa lalu itu.